Timika, fajarpapua.com – Ancaman malaria di wilayah kerja BLUD Puskesmas Karang Senang, Kabupaten Mimika, masih menjadi perhatian serius. Hingga 29 Oktober 2026, sebanyak 23.523 orang telah menjalani pemeriksaan atau skrining malaria. Dari jumlah tersebut, 131 orang dinyatakan positif meski tidak menunjukkan gejala klinis.
Temuan ini menjadi perhatian tenaga kesehatan karena penderita malaria tanpa gejala berpotensi tidak menyadari dirinya telah terinfeksi. Kondisi tersebut membuat pemeriksaan aktif menjadi salah satu strategi penting untuk mendeteksi kasus lebih dini sekaligus menekan risiko penularan di tengah masyarakat.
Kepala BLUD Puskesmas Karang Senang, Mariana Sombodatu, SKM., M.Kes., mengatakan pihaknya tidak hanya menunggu masyarakat datang berobat ke Puskesmas, tetapi juga aktif turun langsung menjangkau warga.
Skrining dilakukan secara jemput bola dari rumah ke rumah, pasar hingga lingkungan sekolah dengan menyasar masyarakat dari berbagai kelompok usia.
Menurut Mariana, langkah tersebut sangat diperlukan mengingat wilayah kerja Puskesmas Karang Senang termasuk kawasan endemis malaria. Kondisi geografis berupa daerah rawa dan banyaknya genangan air menjadi faktor yang mendukung perkembangbiakan nyamuk penular malaria.
"Tujuan skrining ini agar masyarakat yang terinfeksi malaria bisa segera diketahui dan mendapatkan pengobatan, sehingga risiko penularan dapat ditekan," ujarnya.
Selain pemeriksaan, Puskesmas Karang Senang juga memperkuat upaya pencegahan melalui inovasi Gerakan Masyarakat Sadar Pemberantasan Jentik Nyamuk (Gemas Cumanti). Program ini mengajak masyarakat terlibat langsung dalam mengawasi dan memberantas jentik nyamuk di lingkungan masing-masing.
Warga didorong memeriksa genangan air, parit, selokan, tempat penampungan air hujan hingga wadah bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
Edukasi juga diberikan mengenai pentingnya membersihkan tempat penampungan air, menghilangkan genangan yang berpotensi menjadi sarang nyamuk serta menggunakan larvasida sesuai kebutuhan.
Untuk memperluas gerakan tersebut, Puskesmas melibatkan ketua RT, kepala kampung, kepala kelurahan dan kader kesehatan di Kelurahan Karang Senang, Kelurahan Wala Kencana, Kampung Karya Kencana serta Kampung Jimby.
Mariana menegaskan, pencegahan malaria harus dilakukan secara bersama-sama. Pelayanan kesehatan dan pengobatan tidak akan cukup apabila masyarakat tidak ikut menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal.
Puskesmas juga membagikan kelambu kepada warga yang membutuhkan, baik pasien yang datang berobat maupun masyarakat yang ditemui melalui kegiatan Posyandu. Prioritas diberikan kepada warga yang belum memiliki kelambu atau menggunakan kelambu dalam kondisi rusak.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kelambu bukan satu-satunya perlindungan dari malaria. Masyarakat tetap harus menjaga kebersihan rumah, membersihkan rumput di sekitar tempat tinggal dan mengurangi gantungan pakaian yang dapat menjadi tempat persembunyian nyamuk.
"Walaupun masyarakat tidur menggunakan kelambu, perlindungan itu hanya selama mereka berada di dalam kelambu. Ketika beraktivitas di luar, mereka tetap berisiko terkena gigitan nyamuk. Karena itu, lingkungan harus dijaga agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk," jelasnya.
Di tengah intensifnya upaya penanganan, Mariana memastikan stok obat malaria di BLUD Puskesmas Karang Senang masih tersedia dan mencukupi kebutuhan pelayanan pasien.
Ia berharap masyarakat tidak menganggap remeh malaria, termasuk ketika tidak merasakan gejala sakit. Partisipasi dalam skrining, pemeriksaan dini, pengobatan serta pemberantasan sarang nyamuk menjadi kunci untuk menekan penyebaran penyakit tersebut di wilayah Karang Senang.














