Merauke, fajarpapua.com - Sebanyak 108 personel Batalyon Infanteri 315/Garuda atau yang dikenal dengan julukan Pasukan Setan telah tiba di Merauke dengan menggunakan KRI Banjarmasin 592.
Kedatangan 108 personel Yonif 315/Garuda yang dipimpin oleh Wadan Yonif 315/Garuda dalam rangka pengamanan daerah rawan yang berada d wilayah Kabupaten Mappi dan Kabupaten Asmat.
Setibanya di Pelabuhan Satrol TNI AL Lantamal XI Merauke, seluruh personel Satgas terlebih dahulu dilaksanakan prosedur kesehatan (Prokes) yaitu penyemprotan disinfektan dan rapid tes anti gen oleh tim kesehatan Denkesyah 17.05.3 Merauke.
Usai melaksanakan Prokes seluruh personel Yonif 315/Grd melaksanakan pergeseran menuju Marshalling Area bertempat di Makorem 174 Merauke menggunakan 12 kendaraan truck dengan pengawalan dari Provost Korem 174/ATW dan Denpom XVII-A Merauke.
Setibanya di Marshalling Area, personel Satgas Yonif 315/Garuda melaksanakan pengecekan seluruh personel dan perlengkapan dilanjutkan istirahat di tenda yang telah disiapkan sambil menunggu serpas menuju tempat tugas di Kabupaten Mappi dan Asmat.
Andalkan Perang Gerilya
Kepala Penerangan Kogabwilhan III, Kolonel Czi IGN Suriastawa mengungkapkan, teroris KKB Papua selama ini mengandalkan perang gerilya.
Menurut Suriastawa, dalam melakukan serangan, Teroris KKB yang berada di gunung-gunung Papua, biasanya bergerak dalam kelompok-kelompok kecil, tidak besar seperti yang dibayangkan atau dilihat dari foto yang beredar.
Dari mereka yang bergerak untuk melakukan serangan itu, lanjut Suriastawa, tidak semua personel KKB dilengkapi atau membawa senjata api.
"Jadi, jangan dibayangkan seperti foto mereka di medsos, yang bergerombol puluhan atau ratusan orang dan semuanya bersenjata," kata Suriastawa.
Suriastawa mengatakan, jumlah personel KKB yang melakukan serangan gerilya biasanya berjumlah 5 sampai 7 orang. Dari jumlah tersebut, paling banyak hanya dua orang yang membawa senjata api.
"Dalam aksi gerilyanya, dari 5-7 orang hanya 1 atau 2 yang bersenjata dan bila terjadi kontak senjata," ucap Suriastawa.
Ketika kontak senjata terjadi dan ada satu atau dua personel KKB yang terluka atau tewas, maka personel yang selamat langsung menjalankan tugasnya membawa kabur senjata api.
"Orang yang selamat bertugas membawa kabur senjata," ujarnya.
Setelah itu, mereka mendokumentasikan rekannya yang tewas tersebut untuk kemudian diunggah di media sosial. Postingan itu biasanya dibumbui narasi bahwa korban adalah warga sipil.
"Mereka kemudian memposting di medsos mereka bahwa korban adalah warga sipil karena tidak bersenjata," tutur Suriastawa.
Lebih lanjut, Suriastawa mengatakan, KKB meeupakan salah satu sayap gerakan Organisasi Papua Merdeka. Namun, masih ada dua gerakan lagi yakni sayap politik dan kelompok klandestin.
Suriastawa melanjutkan, ketiga sayap gerakan tersebut memanfaatkan media sosial atau medsos untuk saling berkomunikasi.
Biasanya, mereka berkomunikasi untuk merencanakan aksi. Selain itu, juga untuk menyebarkan berita bohong.
Hal itu dilakukan untuk membentuk opini publik, sehingga membuat citra buruk tentang pemerintahan Indonesia, termasuk TNI-Polri terkait persoalan Papua.
"Tiga sayap gerakan ini memanfaatkan medsos untuk saling berkomunikasi, merencanakan aksi dan menyebarkan berita bohong," ucap Suriastawa.
"Membentuk opini buruk memang cara mereka untuk menyudutkan pemerintah Indonesia (termasuk TNI/Polri) terkait masalah Papua melalui berbagai platform medsos."
Suriastawa menambahkan, pihak yang dihadapi TNI-Polri saat ini bukan lagi hanya dari kelompok kriminal bersenjata (KKB). Melainkan juga kelompok klandestin.
Kelompok tersebut, kata Suriastawa, berada di dalam maupun luar negeri. Selain itu, profesi kelompok ini bisa apa saja.
"Jadi, yang dihadapi bukan hanya Kelompok Separatis Bersenjata (KSB) yang ada di gunung-gunung saja. Tetapi juga politik (dalam dan luar negeri) dan kelompok klandestin yang bisa berprofesi apapun," kata Suriastawa.
Satu Anggota Teroris KKB Tewas
Sementara itu, satu anggota Teroris KKB Papua dilaporkan tewas dan dua lainnya terluka dalam kontak tembak dengan Pasukan TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Ops Nemangkawi pada 10 Juni 2021 di Kampung Eromaga, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak.
Korban tewas atas nama Keminus Murib sementara dua lainnya menderita luka tembak yaitu Tinggiter dan Manis.
"Kelompok teroris KKB ini sudah semakin terdesak, tiga anggotanya berhasil dilumpuhkan, dan penyebar hoaxnya berhasil kita tangkap, bagi penyebar hoax lainnya, agar bersiap TNI Polri akan menegakkan hukum," ujar Kasatgas Humas Nemangkawi, Kombes Pol Iqbal Al Qudussy.
Menurutnya, Negara tidak akan kalah dengan segelintir orang dengan hasrat politik yang menumbalkan masyarakat sipil dan menyebar teror di provinsi Papua Indonesia. (all)

