Timika, fajarpapua.com – PT Freeport Indonesia (PTFI) mulai membuka kembali secara terbatas tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) setelah sebelumnya ditutup akibat insiden longsor pada 2025.
Perusahaan menargetkan pemulihan penuh operasional tambang tersebut dapat rampung pada kuartal I tahun 2027.
Direktur Utama PTFI, Tony Wenas mengatakan saat ini aktivitas produksi terbatas telah berjalan di Production Block 2 dan 3.
Sementara itu, Production Block 1 masih dalam tahap pemulihan dan belum dioperasikan.
“Produksi terbatas sudah berjalan di Block 2 dan 3, sedangkan Block 1 masih dalam proses perbaikan,” ujar Tony, dikutip fajarpapua.com dari Bloomberg Technoz.
Ia menjelaskan, perbaikan pada Production Block 1 dijadwalkan mulai Mei 2026 dan ditargetkan selesai pada awal 2027.
Setelah seluruh blok produksi pulih, kapasitas produksi bijih tembaga diproyeksikan mencapai 200.000 ton per hari pada 2027.
Untuk tahun 2026, Freeport menargetkan produksi sebesar 156.000 ton bijih per hari, meningkat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang masih terdampak gangguan operasional.
Dari sisi penjualan, PTFI menargetkan penjualan tembaga sebesar 1,1 miliar pon atau sekitar 480.000 ton, serta emas sebesar 0,83 juta ons atau setara 26 ton pada 2026.
Namun, angka ini lebih rendah dibandingkan realisasi 2025, dengan penurunan penjualan tembaga sebesar 8,33 persen dan emas 20,95 persen.
Penurunan tersebut tidak lepas dari dampak longsor yang terjadi pada September 2025, yang sempat menekan kapasitas produksi hingga sekitar 30 persen dari kondisi normal.
Berdasarkan laporan Freeport-McMoRan, kinerja keuangan PTFI pada 2025 juga mengalami tekanan.
Laba bersih tercatat sebesar US$2,52 miliar atau turun 38,85 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Produksi tembaga sepanjang 2025 mencapai 1,01 miliar pon, turun sekitar 44 persen secara tahunan.
Sementara produksi emas merosot hampir 50 persen menjadi 937.000 ons.
Meski demikian, tren harga komoditas justru menunjukkan penguatan.
Harga tembaga rata-rata meningkat menjadi US$4,53 per pon, sedangkan harga emas melonjak hingga US$3.418 per troy ons sepanjang 2025.
Kontribusi Negara Rp 54 Triliun
Di tengah proses pemulihan operasional, PTFI memproyeksikan kontribusi terhadap penerimaan negara mencapai US$ 2,9 miliar atau sekitar Rp 54 triliun pada tahun 2026.
Tony Wenas menjelaskan, kontribusi tersebut terdiri dari pajak badan sebesar US$ 1,2 miliar, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar US$ 600 juta, serta dividen untuk holding BUMN pertambangan MIND ID sebesar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17 triliun.
“Dengan asumsi harga emas US$ 4.000 per ons, penerimaan negara bisa mencapai US$ 2,9 miliar tahun ini,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR RI di Jakarta.
Lebih lanjut, PTFI memproyeksikan kontribusi tersebut akan meningkat menjadi US$ 4,3 miliar atau sekitar Rp 73,6 triliun pada 2027.
Bahkan pada periode 2028 hingga 2029, kontribusi negara diperkirakan dapat mencapai US$ 6 miliar atau setara Rp 100 triliun per tahun.
Untuk mendukung target tersebut, perusahaan akan meningkatkan kapasitas penambangan secara bertahap seiring proses pemulihan tambang bawah tanah.
Selain itu, PTFI juga memastikan seluruh infrastruktur tambang tetap aman dan mendukung keberlanjutan operasional.
“Ramp up produksi akan dimulai Mei 2026 hingga kuartal I 2027, sebelum Production Block 1 yang memiliki kadar tinggi mulai dioperasikan kembali,” tandasnya. (mas)








Komentar (0)