Lewati ke konten utama

Yayasan Kasih Iman Samuel Papua Sampaikan Permohonan Maaf atas Dugaan Keracunan Ratusan Warga di Depapre Akibat MBG

Redaksi Fajar PapuaPenulis
17.30 WIT3 menit baca153 dibaca
Kuasa Hukum Yayasan Kasih Iman Samuel Papua (KISP), Yansen Marudut
Kuasa Hukum Yayasan Kasih Iman Samuel Papua (KISP), Yansen MarudutFoto / JAYAPURA
Bagikan berita ini
Aa

Jayapura, fajarpapua.com – Yayasan Kasih Iman Samuel Papua (KISP) menyampaikan permohonan maaf atas musibah dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan warga dan siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Selasa (4/8).

Makanan tersebut disiapkan oleh Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jayapura Depapre Waiya.

Kuasa Hukum Yayasan KISP, Yansen Marudut, mengatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kejadian tersebut karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan Dinas Kesehatan dan Puskesmas terhadap sampel makanan.

"Kami masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui apakah makanan yang kami sajikan menjadi penyebab keracunan atau tidak. Kami belum bisa memberikan kesimpulan sebelum hasil tersebut keluar," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (5/8/2026).

Yansen menjelaskan, pada hari kejadian Dapur SPPG Depapre mendistribusikan sekitar 2.200 porsi makanan ke sejumlah sekolah, posyandu, dan lokasi penerima manfaat lainnya di Distrik Depapre.

Menurutnya, jumlah pasti penerima manfaat yang mengalami gejala dugaan keracunan masih terus didata karena masih ada warga yang datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.

"Dari total sekitar 2.200 porsi yang dibagikan, yang terdampak diperkirakan sekitar 10 persen. Namun angka pastinya masih menunggu pendataan karena masih ada yang berdatangan ke fasilitas kesehatan," katanya.

Ia menambahkan, kondisi sebagian pasien yang dirawat mulai membaik. Dari delapan pasien yang dirawat di RSUP Kementerian Kesehatan, satu orang telah diperbolehkan pulang, sedangkan tujuh lainnya masih menjalani perawatan intensif. Sementara pasien yang dirawat di RSUD Yowari juga masih dalam pemantauan tim medis. Yansen mengatakan penyebab kejadian masih didalami aparat kepolisian, termasuk dugaan adanya kelalaian dalam proses penyajian maupun faktor lainnya. Sejumlah karyawan dapur juga masih dimintai keterangan oleh penyidik. "Kami belum bisa menyimpulkan apakah ini akibat kesalahan dalam pengolahan makanan, keterlambatan distribusi, atau kemungkinan lainnya. Semua masih dalam proses penyelidikan," tuturnya.

Sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat, Yayasan KISP akan memaparkan alur penyediaan makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, pemorsian, hingga pendistribusian kepada media.

"Memang ada informasi yang beredar di masyarakat masih simpang siur, ada yang menyebut makanan basi dan sebagainya. Kami meminta masyarakat menunggu hasil resmi pemeriksaan laboratorium agar tidak muncul spekulasi," ujarnya.

Yansen menjelaskan, menu yang disajikan pada hari kejadian terdiri atas nasi, telur, tempe, sayur jagung dan pakcoy, serta buah semangka. Menu tersebut disusun sesuai standar gizi yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).

Ia menambahkan, menu untuk balita di posyandu berbeda dengan menu siswa sekolah karena telah disesuaikan dengan kelompok usia dan kebutuhan gizi masing-masing.

Terkait operasional Dapur SPPG Depapre, Yansen mengatakan pelayanan untuk sementara dihentikan selama proses penyelidikan berlangsung. "Penghentian sementara dilakukan agar proses investigasi berjalan maksimal. Kami masih menunggu keputusan lebih lanjut dari BGN setelah hasil penyelidikan dan pemeriksaan laboratorium selesai," katanya.

Selama ini Dapur SPPG Depapre melayani distribusi makanan bergizi ke sejumlah sekolah dan posyandu di Distrik Depapre, di antaranya SD YPK Tablanusu, SD Inpres Depapre, SMP Negeri 1 Depapre, SMK Negeri 3 Kemaritiman Depapre, Posyandu Bandeng, PAUD Bandeng, serta sejumlah lokasi lainnya.

Yansen menegaskan, Yayasan KISP bertanggung jawab atas seluruh biaya pengobatan penerima manfaat yang diduga mengalami keracunan. "Kami akan menanggung seluruh biaya pengobatan para korban. Kami juga menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada kepolisian dan akan menerima apa pun hasil investigasi, termasuk hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang setiap hari kami simpan sesuai standar operasional BGN," tegasnya.(hsb)