Lewati ke konten utama

Merajut Kehidupan Laut Jayapura, PLN Ubah FABA Menjadi Rumah bagi Biota

Redaksi Fajar PapuaPenulis
18.14 WIT3 menit baca15 dibaca
PT PLN (Persero) bersama komunitas EAB Outdoor memanfaatkan material Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari PLTU Holtekamp sebagai bahan pembuatan modul rumah ikan di perairan Pantai Holtekamp, Kota Jayapura. Program ini ditujukan untuk mendukung pemulihan ekosistem laut dan meningkatkan potensi ekonomi masyarakat pesisir.
PT PLN (Persero) bersama komunitas EAB Outdoor memanfaatkan material Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari PLTU Holtekamp sebagai bahan pembuatan modul rumah ikan di perairan Pantai Holtekamp, Kota Jayapura. Program ini ditujukan untuk mendukung pemulihan ekosistem laut dan meningkatkan potensi ekonomi masyarakat pesisir.Foto / JAYAPURA
Bagikan berita ini
Aa

Jayapura, fajarpapua.com – PT PLN (Persero) bersama komunitas EAB (Enak Apa Bilang) Outdoor memanfaatkan material Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari PLTU Holtekamp untuk membuat modul rumah ikan di perairan Pantai Holtekamp, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura.

Pemanfaatan FABA tersebut merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN yang diarahkan untuk mendukung pelestarian ekosistem laut sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat pesisir.

Material sisa pembakaran batu bara yang selama ini merupakan bagian dari proses pembangkitan listrik tersebut diolah menjadi struktur beton yang berfungsi sebagai tempat berlindung dan berkembangnya biota laut.

Struktur rumah ikan dibuat menggunakan campuran sekitar 30 hingga 35 persen FABA, pasir, semen dan perekat khusus. Modul tersebut dirancang dengan sejumlah ruang yang dapat menjadi tempat berlindung benih ikan dari predator sekaligus menjadi media tumbuh bagi terumbu karang.

Perwakilan Komunitas EAB Outdoor, Fandi Joyo, mengatakan modul rumah ikan yang telah mengeras kemudian ditenggelamkan oleh tim penyelam ke dasar laut pada kedalaman sekitar 5 hingga 7 meter.

“Setelah modul rumah ikan mengeras sempurna, empat penyelam dari Komunitas EAB menurunkannya satu per satu ke dasar laut berpasir di kedalaman 5 hingga 7 meter, tepat di area yang aman dari jalur perlintasan kapal besar pembongkar batu bara. Penyelaman dilakukan pada pagi hari untuk menghindari arus bawah laut yang kuat,” jelas Fandi, Jumat (18/9/2026).

Menurutnya, pemasangan modul tersebut diharapkan dapat menciptakan habitat baru bagi ikan dan biota laut di kawasan perairan Holtekamp.

Program ini juga diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir melalui konsep Creating Shared Value (CSV). Dengan terbentuknya habitat baru dan meningkatnya populasi ikan di sekitar perairan pantai, nelayan diharapkan dapat memperoleh hasil tangkapan tanpa harus melaut terlalu jauh.

Untuk memastikan perkembangan ekosistem berjalan dengan baik, Komunitas EAB Outdoor akan melakukan pemantauan bawah air secara rutin sebanyak dua kali dalam sebulan.

Apabila pertumbuhan karang alami berlangsung lambat, tim penyelam akan mempertimbangkan penerapan metode transplantasi atau stek karang pada modul rumah ikan tersebut.

Fandi berharap masyarakat turut menjaga kawasan yang telah dibangun agar tidak mengalami kerusakan.

“Kami berharap inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat dengan tidak merusak ekosistem yang sedang dibangun. Kami ingin anak cucu kita kelak masih bisa melihat keindahan laut yang kita saksikan hari ini. Kalau bukan kita, siapa lagi yang menjaga alam,” tegasnya.

General Manager PLN UIW Papua dan Papua Barat, Roberth Rumsaur, mengatakan pemanfaatan FABA tersebut merupakan bagian dari komitmen PLN dalam menjalankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

“Kami melihat FABA bukan sebagai akhir dari sebuah proses produksi, melainkan potensi untuk menciptakan awal kehidupan baru bagi ekosistem laut. Melalui program ini, PLN ingin membuktikan bahwa upaya menerangi negeri dapat berjalan selaras dengan pelestarian alam, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat pesisir Jayapura,” ungkapnya.

Ke depan, kawasan pesisir Holtekamp diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai kawasan perikanan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata bahari sekaligus ruang edukasi lingkungan.

Pemanfaatan FABA melalui program TJSL tersebut menjadi salah satu upaya untuk menghubungkan pengelolaan material sisa pembakaran dengan pemulihan ekosistem dan pemberdayaan masyarakat pesisir. (Humas PLN)