Timika, fajarpapua.com – Bupati Mimika, Johannes Rettob, menghadiri kegiatan Dharma Santi yang merupakan rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, yang digelar di Pura Mandhira Mihika Mandaloka, Kelurahan Wonosari Jaya, Distrik Wania, Kamis (30/4).
Kehadiran Bupati Mimika bersama Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong dan Forpimda Kabupaten Mimika serta Ketua TP PKK Kabupaten Mimika, Ny. Suzana Rettob dalam kegiatan tersebut menjadi wujud dukungan pemerintah daerah terhadap kehidupan beragama yang harmonis di Kabupaten Mimika.
Dharma Santi sendiri merupakan puncak dari perayaan Nyepi bagi umat Hindu, yang memiliki makna penting sebagai ajang silaturahmi, refleksi, serta penyucian diri setelah menjalankan Catur Brata Penyepian.
Dalam suasana penuh kebersamaan, kegiatan Dharma Santi diisi dengan doa bersama, refleksi spiritual, serta penampilan seni budaya yang sarat nilai-nilai keagamaan.
Selain itu, acara Dharma Santi yang digelar Umat Hindu Kabupaten Mimika juga diisi dengan penampilan tarian dari Warga Maluku Tenggara.
Momentum ini menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarumat beragama, sekaligus memperkuat semangat pengabdian kepada Tuhan (madawa sewa) dan sesama manusia (manawa sewa).
Bupati Mimika, Johannes Rettob, dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi kepada umat Hindu atas kontribusi dan sikap toleransi yang selama ini ditunjukkan di Kabupaten Mimika.
“Saya mengapresiasi umat Hindu yang telah menunjukkan toleransi yang luar biasa dan berkontribusi di segala bidang di Kabupaten Mimika,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh umat Hindu untuk terus menjaga stabilitas dan harmoni sosial, serta menjadikan nilai-nilai Dharma sebagai landasan dalam bertindak di tengah tantangan zaman dan dinamika pembangunan saat ini.
“Melalui momentum Dharma Santi ini, saya mengajak seluruh umat Hindu di Mimika untuk terus menjaga keharmonisan, memperkuat toleransi antarumat beragama, serta berperan aktif dalam membangun kehidupan sosial yang damai dan rukun di daerah ini,” tambah Bupati Rettob.
Ia menegaskan keberagaman di Mimika merupakan kekuatan yang harus dijaga bersama.
Oleh karena itu, semangat persaudaraan dan saling menghargai menjadi kunci utama dalam menciptakan stabilitas sosial yang kondusif.
Secara nasional, Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Saka 1948 (2026 M) mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju”.
Puncak perayaan nasional sendiri digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya (Art Center) Bali, Denpasar, pada Jumat, 17 April 2026.
Perayaan ini menjadi penutup rangkaian Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 19 Maret 2026, dengan menekankan pesan utama tentang pentingnya saling memaafkan (simakrama), refleksi diri, serta memperkuat persaudaraan sejati (tat twam asi) di tengah keberagaman bangsa Indonesia.
Dharma Santi tingkat nasional tersebut juga dihadiri berbagai tokoh dan masyarakat, serta ditutup dengan pertunjukan seni budaya sebagai bentuk implementasi nilai-nilai keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebagai penutup rangkaian panjang perayaan Nyepi, Dharma Santi menjadi momentum penting bagi umat Hindu untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan jiwa yang lebih bersih, tenang, dan penuh semangat kebersamaan. (mas)

