Lewati ke konten utama

Sagu Terancam Hilang, Michael Yarisetouw: Identitas Orang Papua Ikut Lenyap

Redaksi Fajar PapuaPenulis
FanEditor
20.38 WIT3 menit baca65 dibaca
Foto bersama di Festival Colo Sagu Papua
Foto bersama di Festival Colo Sagu PapuaFoto / JAYAPURA
Bagikan berita ini
Aa

Jayapura, fajarpapua.com – Ancaman terhadap keberlanjutan sagu di Papua tidak lagi sekadar persoalan lingkungan, tetapi telah berkembang menjadi persoalan identitas, budaya, dan masa depan pangan masyarakat Papua.

Ketua Panitia Festival Colo Sagu Michael Jhon Yarisetouw menyampaikan, perlindungan sagu tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan kebijakan pemerintah tanpa didukung gerakan sosial yang melibatkan masyarakat luas, terutama generasi muda.

“Kalau sagu hilang, maka yang hilang bukan hanya satu jenis pangan, tetapi bagian dari identitas orang Papua,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Seminar Sagu Papua 2026 yang digelar Yayasan Colo Sagu Nusantara bersama Polresta Jayapura Kota dalam rangka menyambut HUT Bhayangkara ke-80 Tahun 2026. Seminar itu menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa sagu merupakan kekayaan ekologis, budaya, sekaligus fondasi ketahanan pangan Papua.

Michael menjelaskan, gerakan Colo Sagu yang berkembang sejak 2023 lahir dari keprihatinan atas meningkatnya tekanan terhadap hutan sagu di Papua. Perubahan fungsi lahan, pembangunan yang tidak selalu berpihak pada ruang hidup masyarakat adat, serta menurunnya minat generasi muda terhadap pangan lokal menjadi tantangan yang harus segera dijawab.

“Sagu bukan hanya pohon yang menghasilkan makanan. Sagu adalah bagian dari sejarah, adat, dan cara hidup orang Papua. Ketika hutan sagu hilang, kita kehilangan ruang yang menyimpan identitas kita,” tuturnya, Minggu (21/6/2026).

Michael menilai, persoalan terbesar saat ini bukan hanya berkurangnya kawasan sagu, tetapi juga melemahnya pengetahuan generasi muda mengenai tanaman tersebut.

Banyak anak muda Papua mulai menjauh dari proses mengenal, mengelola, dan memanfaatkan sagu sebagai kekuatan lokal. Padahal, keberlanjutan sagu sangat bergantung pada pemahaman generasi penerus terhadap nilai penting tanaman tersebut.

“Kalau generasi muda tidak lagi mengenal sagu, maka pengetahuan yang diwariskan leluhur bisa hilang. Kita bisa kehilangan bukan hanya sumber pangan, tetapi juga warisan budaya,” katanya.

Karena itu, Michael mendorong mahasiswa dan pemuda Papua mengambil peran lebih besar melalui penelitian, inovasi, kampanye lingkungan, serta advokasi perlindungan kawasan sagu.

Yayasan Colo Sagu Nusantara juga terus mengembangkan gerakan Saguisme sebagai upaya mengembalikan sagu sebagai simbol kedaulatan pangan Papua.

Menurut Michael, Papua memiliki kekayaan pangan lokal yang dapat menjadi kekuatan menghadapi tantangan masa depan, termasuk perubahan iklim, ketahanan pangan, serta ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah.

“Sagu harus kembali menjadi kebanggaan orang Papua. Kita tidak boleh menjadi asing terhadap kekayaan yang selama ini menopang kehidupan kita,” bebernya.

Ia menambahkan, pengembangan sagu juga dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui inovasi produk olahan, penguatan usaha lokal, serta pemberdayaan masyarakat adat.

Melalui Seminar Sagu Papua 2026, Yayasan Colo Sagu Nusantara bersama Polresta Jayapura Kota mengajak pemerintah, akademisi, masyarakat adat, komunitas lingkungan, mahasiswa, dan seluruh elemen masyarakat memperkuat kolaborasi dalam menjaga keberlanjutan sagu.

Michael berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menjadi gerakan nyata yang mendorong perubahan di tengah masyarakat.

“Kita tidak sedang menjaga masa lalu saja. Kita sedang menjaga masa depan Papua. Menjaga sagu berarti menjaga identitas, budaya, dan kehidupan generasi berikutnya,” pungkasnya. (hsb)