Lewati ke konten utama

Catatan Miris di Tengah Penerimaan Siswa Baru, Tercatat 7.047 Anak di Distrik Mimika Baru Berstatus Putus Sekolah

Redaksi Fajar PapuaPenulis
MustofaEditor
09.31 WIT2 menit baca202 dibaca
Ilustrasi
IlustrasiFoto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Di tengah berlangsungnya proses penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027, Kabupaten Mimika justru dihadapkan pada catatan miris.

Tercatat sebanyak 7.047 anak di Distrik Mimika Baru masuk dalam kategori putus sekolah dan atau tidak bersekolah.

Data tersebut terungkap dalam Forum Koordinasi Lintas Sektor Penanganan Anak Terlantar yang diselenggarakan Dinas Sosial Kabupaten Mimika di Hotel Grand Tembaga pada Senin (22/6) lalu.

Kepala Distrik Mimika Baru, Merlyn Temorubun, mengatakan tingginya angka anak yang tidak mengenyam pendidikan tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, aparat distrik, sekolah, hingga masyarakat.

Menurutnya, penanganan anak terlantar tidak boleh berhenti pada tahap pendataan dan asesmen semata, melainkan harus dibarengi dengan pengawasan berkelanjutan agar intervensi yang dilakukan benar-benar berdampak.

“Yang terpenting adalah memastikan anak-anak yang sudah mendapatkan intervensi tidak kembali ke jalan atau kembali ke kondisi semula,” ujarnya.

Merlyn mengungkapkan, hingga kini masih ditemukan anak-anak yang berkeliaran di kawasan Pasar Sentral Timika meski sebelumnya telah mendapatkan penanganan.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya evaluasi terhadap efektivitas berbagai program yang telah dijalankan.

Ia menilai keberhasilan program harus dapat diukur secara jelas melalui indikator yang nyata, seperti jumlah anak yang berhasil kembali bersekolah, terbebas dari kondisi terlantar, serta memperoleh pengasuhan yang layak dalam lingkungan keluarga.

Selain itu, Merlyn mengusulkan pembentukan jalur komunikasi cepat melalui hotline maupun grup WhatsApp lintas instansi.

Langkah tersebut dinilai penting agar masyarakat lebih mudah melaporkan keberadaan anak terlantar yang membutuhkan penanganan segera.

Ia juga meminta agar data yang dimiliki Dinas Sosial dapat dibagikan kepada pemerintah distrik untuk diverifikasi hingga tingkat RT dan kampung, sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat sasaran.

Tak hanya itu, Merlyn turut mendorong penyediaan rumah singgah bagi anak-anak terlantar serta peningkatan dukungan anggaran bagi para pekerja sosial yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menangani berbagai persoalan anak.

Data sebanyak 7.047 anak putus sekolah dan tidak bersekolah di Distrik Mimika Baru menjadi alarm serius di tengah semangat penerimaan siswa baru.

Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan perlindungan sosial, tetapi juga menyangkut akses pendidikan, pola pengasuhan keluarga, kondisi ekonomi, hingga pengawasan lingkungan terhadap tumbuh kembang anak. (mas)