Lewati ke konten utama

BMKG Cabut Peringatan Tsunami Pasca Gempa M7,7 Guncang Nagekeo Flores, Warga Diminta Tetap Waspada

Redaksi Fajar PapuaPenulis
10.24 WIT2 menit baca258 dibaca
Air laut di wilayah Aimere, Flores, sempat surut.
Air laut di wilayah Aimere, Flores, sempat surut.Foto / Lingkungan
Bagikan berita ini
Aa

Jakarta, fajarpapua.com– Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah sebelum akhirnya peringatan tersebut dicabut setelah dilakukan pemantauan lanjutan.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Wijayanto dalam konferensi pers sebagaimana diliput fajarpapua.com menyebutkan, gempa berpusat di laut pada koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur atau sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, dengan kedalaman 15 kilometer.

Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa tersebut berpotensi memicu tsunami di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Status ancaman sempat ditetapkan pada level Siaga untuk beberapa wilayah di NTT dan Jeneponto, Sulawesi Selatan, sementara sejumlah daerah lainnya berada pada status Waspada.

BMKG bergerak cepat menerbitkan peringatan dini tsunami pertama hanya dua menit setelah gempa terjadi, kemudian memperbarui informasi melalui peringatan kedua sekitar 11 menit kemudian. Seluruh informasi disampaikan kepada pemerintah daerah, BPBD, serta masyarakat sebagai langkah antisipasi.

Berdasarkan peta guncangan (shakemap), intensitas gempa mencapai skala VII MMI di wilayah Aesesa, Nagekeo, Riung, Ngada, dan Kota Mbay. Getaran juga dirasakan kuat di Bajawa dengan intensitas VI MMI, sedangkan Kota Ende, Borong, dan Ruteng mengalami guncangan pada skala V MMI.

BMKG mengungkapkan aktivitas gempa susulan masih terus dipantau, termasuk perubahan tinggi muka air laut melalui jaringan pengamatan yang tersebar di berbagai wilayah. Informasi terbaru akan terus disampaikan apabila terdapat perkembangan signifikan.

Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Warga juga diimbau menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa karena berpotensi membahayakan apabila terjadi gempa susulan.

Meski peringatan tsunami telah dicabut, masyarakat di kawasan pesisir diminta tetap menghindari pantai hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman oleh BMKG. Bagi warga di daerah yang sebelumnya berstatus Siaga maupun Waspada, kewaspadaan tetap perlu dijaga sambil mengikuti arahan dari pemerintah daerah dan petugas di lapangan.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar hanya memperoleh informasi resmi melalui kanal komunikasi BMKG, baik melalui situs resmi, aplikasi InfoBMKG, maupun media sosial yang telah terverifikasi. (moa)