Lewati ke konten utama

Jenazah Pilot AMA Dibawa ke Jayapura Untuk Penghormatan Terakhir Bersama Keuskupan Jayapura, Keuskupan : Ini Tindakan Biadab

Redaksi Fajar PapuaPenulis
MustofaEditor
09.24 WIT2 menit baca295 dibaca
Pihak keuskupan Jayapura saat menerima jenazah Pilot Nicholas F. Goselin alias Mark saat baru tiba di Jayapura, Jumat (3/7) sore.
Pihak keuskupan Jayapura saat menerima jenazah Pilot Nicholas F. Goselin alias Mark saat baru tiba di Jayapura, Jumat (3/7) sore.Foto / JAYAPURA
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com - Sebelum diberangkatkan ke Jakarta jenazah pilot pesawat PT Asian Mission Aviation (AMA), Nicholas F. Goselin alias Mark di bawa ke Sentani Jayapura menggunakan pesawat TNI AU dari Base Ops Lanud Yohanis Kapiyau Timika, Jumat (3/7) sore.

Tiba di Jayapura dilakukan prosesi penyerahan dan ibadah pelepasan jenazah bersama seluruh keluarga besar AMA Air yang dipimpin oleh Administrator Apostolik Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius di Base Ops Lanud Silas Papare, Sentani, Kabupaten Jayapura.

Mewakili Maskapai AMA Air Asisten Manager Operasi Mario Tethol mengatakan, jenazah terlebih dahulu diterbangkan ke Sentani Jayapura untuk Penghormatan dan ibadah bersama Keuskupan Jayapura dan selanjutnya diberangtakan ke Jakarta untuk diserahkan kepada keluarganya.

"Sore ini kita terbangkan ke Jayapura dulu baru ke Jakarta, kami bawa ke Jayapura dulu untuk penghormatan terakhir baru diberangkatkan ke Jakarta,"ungkapnya.

Sementara saat memimpin ibadah pelepasan jenazah di Jayapura Administrator Apostolik Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius, menyebut insiden tersebut sebagai tragedi kemanusiaan yang sangat menyedihkan bagi Gereja Katolik dan keluarga besar Asian Mission Aviation (AMA).

Menurutnya, selama lebih dari enam dekade AMA hadir di Papua untuk melayani masyarakat pedalaman melalui transportasi udara yang mendukung pelayanan gereja, pendidikan, kesehatan, sosial, hingga pembangunan masyarakat di daerah terpencil.

"Kami sangat terpukul. Selama ini kami menghadapi risiko kecelakaan akibat cuaca atau faktor teknis, tetapi kejadian karena tindakan kejahatan manusia seperti ini sangat sulit kami terima. Ini adalah tindakan yang biadab dan tidak berperikemanusiaan," ungkap Mgr. Yanuarius.

Ia juga menegaskan bahwa AMA merupakan lembaga yang sepenuhnya menjalankan misi kemanusiaan dan tidak pernah terlibat dalam aktivitas militer sebagaimana tuduhan yang beredar di media sosial.

"Kami berkomitmen penuh pada misi kemanusiaan. Tidak pernah ada kepentingan politik ataupun militer dalam pelayanan AMA. Tuduhan bahwa pesawat kami membawa amunisi atau aparat keamanan tidak benar sama sekali," tegasnya.

Peristiwa ini menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga korban dan PT Asian Mission Aviation, tetapi juga bagi masyarakat Papua yang selama ini bergantung pada layanan penerbangan perintis untuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil.

Diketahui Keuskupan Jayapura adalah pemilik dan pengelola maskapai penerbangan perintis Associated Mission Aviation:(AMA Air). Maskapai ini murni melayani misi kemanusiaan untuk masyarakat pedalaman Papua. Layanan ini membawa tenaga medis, guru, bahan pokok, dan keperluan rohani.

AMA Air dimiliki bersama oleh lima keuskupan di Tanah Papua, di mana Keuskupan Jayapura memegang peran utama. Uskup Jayapura juga menjabat sebagai Komisaris PT AMA. AMA Air sudah beroperasi selama puluhan tahun untuk menembus keterisolasian wilayah pegunungan Papua yang sulit dijangkau melalui jalur darat.(ron)