Timika, fajarpapua.com – Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang digelar PT Freeport Indonesia (PTFI) di area dataran rendah (Low Land) Kuala Kencana, Senin (17/8), berlangsung khidmat.
Bertindak sebagai inspektur upacara Direktur & EVP Sustainable Development PTFI Claus Oscar R. Wamafma. Sementara komandan upacara dipercayakan kepada Iptu Abdul Hamid, Komandan Kompi 1 Batalyon B Sat Brimob Pelopor Polda Papua Tengah.
Di tengah cuaca mendung dan sejuk Kuala Kencana, sebanyak 73 anggota Paskibra yang dikukuhkan pada Sabtu (15/8) sukses melaksanakan tugas pengibaran Sang Saka Merah Putih. Penampilan mereka mendapat apresiasi dan decak kagum dari para tamu undangan.
PTFI menggelar upacara HUT ke-81 RI di sejumlah lokasi, yakni Tembagapura, Kuala Kencana, Nabire, Smelter PTFI dan PT Smelting di Gresik, serta Kantor PTFI Jakarta. Masing-masing lokasi melaksanakan upacara secara mandiri, namun seluruh peserta terhubung secara virtual untuk mengikuti amanat Presiden Direktur (Presdir) PTFI Tony Wenas yang disampaikan langsung dari Tembagapura.
Dalam amanatnya, Tony Wenas mengatakan perjalanan hampir 60 tahun PTFI di Tanah Papua tidak lepas dari berbagai ujian dan cobaan yang menguji ketabahan serta ketangguhan seluruh keluarga besar perusahaan.
Salah satu peristiwa paling berat adalah insiden luncuran material basah di Tambang Bawah Tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada 8 September 2025 yang meninggalkan luka dan duka mendalam.
Tony mengajak seluruh peserta upacara mengenang tujuh karyawan PTFI yang meninggal dunia dalam insiden tersebut, yakni (Alm.) Balisang Telile, (Alm.) Dadang Hermanto, (Alm.) Holong Silaban, (Alm.) Irawan, (Alm.) Victor Ballesteros, (Alm.) Wigih Hartono, dan (Alm.) Zaverius Magai.
"Jasa, dedikasi, dan pengabdian mereka akan senantiasa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan dan sejarah perusahaan ini. Doa kita panjatkan agar mereka memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kekuatan, ketabahan, dan penghiburan dalam menghadapi kehilangan yang begitu besar," katanya.
Menurut Tony, peristiwa tersebut kembali mengingatkan seluruh insan PTFI bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada keselamatan jiwa setiap rekan kerja.
"Setiap target produksi, setiap pencapaian, dan setiap keberhasilan operasional hanya memiliki makna apabila seluruh insan yang menjalankannya dapat kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarga mereka dalam keadaan selamat," tegasnya.
Selain insiden di tambang bawah tanah, PTFI juga menghadapi tantangan keamanan berupa sejumlah aksi penembakan pada kuartal pertama 2026 di Tembagapura. Dalam rangkaian peristiwa tersebut, PTFI kembali kehilangan dua karyawan, yakni (Alm.) Erman Rustaman dan (Alm.) Simson Mulia.
Tony mengatakan duka tersebut harus menjadi penguat tekad seluruh jajaran PTFI untuk terus membangun budaya keselamatan yang semakin kokoh, disiplin dan saling mengingatkan.
"Safety adalah bagian inti dari Corporate Value kita yaitu SINCERE, yang menjadi landasan utama perilaku kita: Safety, Integrity, Commitment, Respect, dan Excellence. Safety bukan hanya sekadar prosedur, melainkan nilai yang harus hidup dalam setiap keputusan, setiap tindakan, dan setiap cara kita bekerja," ungkapnya.
Tony juga mengajak seluruh peserta untuk mendoakan para karyawan yang telah berpulang serta keluarga yang ditinggalkan.
"Kepergian mereka tentu saja meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi keluarga, rekan kerja, dan perusahaan. Pada kesempatan ini, marilah kita bersama-sama mendoakan agar almarhum memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan. Safety dimulai dari diri kita sejak kita memulai hari," tegasnya.
# Kapasitas Produksi Diproyeksikan Naik
Di sisi lain, Tony mengungkapkan kapasitas produksi PTFI diproyeksikan mencapai sekitar 65 persen pada akhir semester kedua 2026 berkat kerja keras seluruh tim dan dukungan berbagai pihak.
PTFI menargetkan produksi sekitar 800 juta pound tembaga dan 700 ribu ounce emas.
Ke depan, kapasitas produksi diharapkan meningkat hingga sekitar 75 persen pada pertengahan 2027 dan secara bertahap mendekati kapasitas produksi penuh pada akhir 2027.
Sementara itu, Smelter PTFI di Gresik telah siap kembali beroperasi. Bersama Smelter PT Smelting, fasilitas tersebut akan memiliki kapasitas pemurnian sekitar 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun.
Pencapaian tersebut menjadikan Gresik sebagai salah satu pusat pemurnian mineral terbesar dalam sejarah hilirisasi Indonesia sekaligus menegaskan komitmen PTFI meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
# Investasi Kucing Liar Capai Rp72 Triliun
Tony juga menyampaikan pengembangan tambang bawah tanah Kucing Liar yang diproyeksikan menjadi salah satu sumber produksi utama perusahaan pada masa depan terus berjalan.
Investasi pengembangan tambang bawah tanah tersebut telah mencapai sekitar Rp25 triliun dan secara keseluruhan diproyeksikan mencapai Rp72 triliun.
Sepanjang 2025, PTFI disebut telah memberikan kontribusi kepada negara sebesar Rp75 triliun, termasuk sekitar Rp13 triliun yang merupakan bagian pemerintah Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah dan kabupaten lainnya di Papua Tengah.
"Kontribusi tersebut mencerminkan komitmen kita yang tidak pernah surut untuk memberikan manfaat nyata bagi negara dan masyarakat, meskipun kita menghadapi berbagai tantangan. Dan saat nantinya kita mencapai kapasitas produksi 100 persen, maka kontribusi PTFI bagi negara akan mencapai lebih dari Rp100 triliun setiap tahunnya," tegas Tony. (ron)










