Timika, fajarpapua.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang Laut Maluku pada Kamis (2/4) pukul 06.48 WITA tidak hanya memicu tsunami, tetapi juga menyebabkan korban jiwa di sejumlah wilayah terdampak, termasuk di Kota Manado, Sulawesi Utara.
Berdasarkan informasi yang dikutip fajarpapua.com dari laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada kedalaman sekitar 60–62 kilometer dengan pusat di koordinat 1,25 LU dan 126,27 BT.
Guncangan kuat dirasakan di Sulawesi Utara dan Maluku Utara, bahkan memicu peringatan dini tsunami.
Hasil pemantauan menunjukkan tsunami benar terjadi di sejumlah wilayah pesisir.
Di Tanjung Merah, Sulawesi Utara, tinggi gelombang tercatat sekitar 0,65 meter pada pukul 07.17 WITA.
Sementara itu, ketinggian maksimum sementara dilaporkan mencapai 0,75 meter di wilayah Belang.
Meski tidak berbentuk gelombang besar, tsunami ini tetap berbahaya karena memiliki arus kuat yang dapat menyeret benda di pesisir.
Hingga kini, status waspada tsunami untuk wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara masih diberlakukan.
Korban Jiwa di Manado
Di tengah dampak yang timbul, gempa juga mengakibatkan adanya korban jiwa.
Seorang lansia dilaporkan meninggal dunia setelah tertimpa material bangunan di kompleks Kantor KONI Sulawesi Utara.
Korban diketahui berada di sekitar lokasi saat gempa terjadi, dan tertimpa aksesori bangunan yang roboh akibat kuatnya guncangan.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Sulut, Audy Pangemanan, menjelaskan kerusakan yang terjadi bukan pada struktur utama bangunan, melainkan pada bagian aksesori yang runtuh saat gempa berlangsung.
Gempa Susulan
Pasca gempa utama, aktivitas gempa susulan masih terus terjadi di wilayah Laut Maluku.
Data dari United States Geological Survey menunjukkan gempa susulan berkekuatan antara magnitudo 4,0 hingga 5,0.
Fenomena ini merupakan hal yang normal setelah gempa besar dan dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
USGS menyebutkan gempa dipicu oleh aktivitas tektonik Lempeng Maluku dengan mekanisme patahan naik (thrust fault).
Bidang patahan diperkirakan memiliki panjang sekitar 70 kilometer dan lebar 35 kilometer.
Wilayah ini memang dikenal sebagai zona aktif karena pertemuan beberapa lempeng besar, sehingga rawan gempa bumi.
Dampak dan Imbauan
Getaran gempa dirasakan sangat kuat di beberapa wilayah, bahkan mencapai skala VIII MMI di Pulau Maju dan Pulau Gureda.
Sementara di Manado, intensitas mencapai VI–VII MMI yang berpotensi menyebabkan kerusakan bangunan.
Sejumlah fasilitas dilaporkan mengalami kerusakan dan hingga kini pendataan korban serta kerugian masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap gempa susulan dan potensi tsunami. Warga di pesisir diminta menjauhi pantai sementara waktu serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah.
Situasi masih berkembang dan pembaruan data akan terus disampaikan sesuai hasil pemantauan terbaru.(mas)








Komentar (0)