Lewati ke konten utama
Breaking
Fajar Papua

Kurniati Ali - Penderita Kanker Payudara Itu Akhirnya Pergi Membawa Satu Harapan Terakhir

image
imageFoto / MIMIKA
Redaksi2 menit baca6 kali dibaca

Timika, fajarpapua.com - Jumat pagi, langit Timika tampak begitu cerah. Cahaya mentari menghujam halaman Bandara Mozes Kilangin yang seolah ikut mengantar langkah kecil penuh harapan seorang perempuan bernama Kurniati Ali.

Dengan tubuh lemah setelah bertahun-tahun digerogoti kanker payudara, Kurniati duduk di atas kursi roda. Di belakangnya ada Arie Agung Perdana perlahan mendorong kursi itu menuju ruang check in. Wajah perempuan itu terlihat tenang. Di bibirnya tersimpan senyum kecil, senyum yang lahir dari perjuangan panjang yang nyaris membuat harapannya runtuh.

Hari itu, Kurniati bersama sang suami akhirnya berangkat menuju Makassar untuk menjalani pengobatan.

Bagi sebagian orang, perjalanan menggunakan pesawat mungkin hal biasa. Namun bagi Kurniati dan para relawan kemanusiaan di Mimika, perjalanan itu adalah jawaban dari doa-doa panjang yang dipanjatkan di tengah malam, dari air mata yang jatuh diam-diam, dan dari pintu-pintu hati yang terus diketuk tanpa lelah.

Perjalanan menuju hari keberangkatan itu bukan perkara mudah. Para relawan yang dikomandani Arie Agung Perdana sempat dihantui rasa takut tidak mampu memberangkatkan Kurniati. Bertahun-tahun penyakit itu ia derita, sementara waktu terus berjalan seperti mengejar sisa kekuatan di tubuhnya.

Berbagai upaya dilakukan para relawan. Mereka menyampaikan permohonan lewat media sosial, mendatangi rumah ke rumah, mengetuk hati para dermawan, berharap ada tangan-tangan yang bersedia membantu seorang ibu agar bertahan hidup lebih lama. Dan pada akhirnya, harapan itu dijawab Tuhan. Pada Jumat (22/5), Kurniati Ali bersama suaminya bisa berangkat menuju rumah sakit rujukan di Makassar.

Arie Agung Perdana yang membawahi tiga kelompok relawan yakni Mimika Respon Cepat, Relawan Mimika Papua, dan Baznas Tanggap Bencana menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu.

Ucapan terima kasih diberikan kepada Pemerintah Kabupaten Mimika atas dukungan BPJS Kesehatan, KKSS Mimika, Mama Kembar, ibu-ibu pengajian, serta seluruh pemerhati kemanusiaan yang telah menitipkan rezekinya melalui para relawan.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan kota tambang, kisah Kurniati menjadi pengingat jika kemanusiaan masih hidup di hati banyak orang. Ada tangan-tangan yang tetap bergerak membantu meski tak dikenal, ada doa-doa yang diam-diam dipanjatkan untuk orang lain, dan ada harapan yang terus dijaga meski keadaan hampir menyerah.

Pesawat itu pun lepas landas dari Timika, membawa seorang ibu dengan satu harapan terakhir, sembuh dan kembali pulang.(fan)