Timika, fajarpapua.com – Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) selaku pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia memulai proses pembangunan Rumah Sagu di Kampung Mapurujaya, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Kamis (11/6). Program tersebut diharapkan menjadi sarana penguatan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan pangan lokal.
Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama yang diawali ibadah dan doa pemberkatan menurut tata cara Katolik yang dipimpin Pastor Stefanus Sabinus bersama Pastor Paroki Imanuel Mapurujaya, Agustinus Yerwuan.
Rumah Sagu merupakan bagian dari Financial Literacy Program (FLP) hasil kolaborasi YPMAK, Bank Tabungan Negara (BTN), dan CV Amungsa Berjaya Gemilang. Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan potensi sagu sebagai komoditas lokal unggulan.
Deputi Bidang Program YPMAK, Billy Enerson Korwa mengatakan, pembangunan Rumah Sagu bukan hanya menghadirkan fasilitas produksi, tetapi juga menjadi upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat Papua.
“Sagu bukan sekadar bahan pangan, tetapi juga bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat Papua. Melalui Rumah Sagu ini kami berharap masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari sumber daya lokal yang dimiliki,” bebernya.
Billy menjelaskan, fasilitas tersebut diharapkan membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga penerima manfaat melalui pengolahan sagu yang lebih modern dan bernilai tambah.
Kepala Divisi Program Sosial dan Ekonomi YPMAK, Oktavianus Jangkup menilai sagu memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikelola dengan baik. Menurutnya, penggunaan mesin pengolahan akan membantu masyarakat menghasilkan berbagai produk turunan sagu yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Ke depan, sagu dapat diolah menjadi berbagai produk pangan yang inovatif dan memiliki daya saing. Jika program ini berhasil di Mapurujaya, maka model yang sama dapat dikembangkan di wilayah lain, termasuk Kokonao,” katanya.
Pembangunan Rumah Sagu ditargetkan selesai dalam waktu satu bulan. Setelah rampung, fasilitas tersebut akan dikelola kelompok usaha masyarakat yang dipimpin Kanisius Maupiauta bersama 12 anggota kelompok.
Kanisius menyambut baik pembangunan tersebut karena dinilai dapat membantu kelompoknya mengembangkan usaha dan meningkatkan pendapatan keluarga.
“Ini impian yang sudah lama kami nantikan. Kami berterima kasih kepada YPMAK atas dukungan yang diberikan kepada masyarakat,” ujarnya.
Melalui program ini, YPMAK berharap pengelolaan sagu tidak hanya menjaga keberlanjutan pangan lokal, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir di Kabupaten Mimika. (moa)








