Lewati ke konten utama

Luncurkan Program Pearson Edexcel, SATP Timika Siapkan Generasi Papua Berdaya Saing Global

Redaksi Fajar PapuaPenulis
MustofaEditor
16.43 WIT4 menit baca47 dibaca
Pemukulan Tifa menandai Grand Opening Program Pearson Edexcel di Hall 2 SATP Timika, Rabu (29/7).
Pemukulan Tifa menandai Grand Opening Program Pearson Edexcel di Hall 2 SATP Timika, Rabu (29/7).Foto / YPMAK
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) Timika resmi meluncurkan Program Pearson Edexcel sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan.

Selain itu penerapan program ini bertujuan untuk mempersiapkan generasi muda Papua mampu bersaing di tingkat internasional tanpa meninggalkan jati diri dan nilai-nilai lokal.

Peluncuran yang ditandai dengan pemukulan tifa bersama di Hall 2 SATP Timika tersebut dihadiri Vice President Community Relations PT Freeport Indonesia, Ketua Pembina Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) Engel Enoch, Deputi Wakil Ketua Bidang Perencanaan Program YPMAK Billy Korwa, Kepala Seksi Kurikulum SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika Wilhelmus Manggo, Ketua Yayasan Pendidikan Lokon Daniel Korompis, serta sejumlah tamu undangan.

Pearson Edexcel sendiri merupakan sistem pendidikan internasional asal Inggris yang berada di bawah Pearson, mencakup jenjang iPrimary, International GCSE hingga International A-Levels.

Kurikulum ini menekankan pengembangan kemampuan berpikir kritis, penerapan ilmu dalam kehidupan nyata, serta pembelajaran berbasis teknologi dan asesmen digital.

Ketua Yayasan Pendidikan Lokon, Daniel Korompis, mengatakan peluncuran Pearson Edexcel menjadi tonggak baru dalam perjalanan SATP.

Menurutnya, penerapan kurikulum internasional bukan berarti meninggalkan fondasi pendidikan yang telah dibangun, melainkan melanjutkan langkah menuju kualitas pendidikan yang lebih baik.

"Hari ini adalah awal baru bagi sekolah kami. Bukan untuk meninggalkan perjalanan yang telah dilakukan, tetapi untuk membangun langkah yang lebih jauh," ujar Daniel.

Ia menjelaskan penerapan Pearson Edexcel merupakan bagian dari strategi pengembangan sekolah yang dirancang secara bertahap, terukur, dan bertanggung jawab untuk menjawab kebutuhan pendidikan di masa depan.

Daniel juga membagikan pengalaman pribadinya saat masih duduk di bangku SMA.

Ia mengaku terinspirasi oleh pesan gurunya yang menyebut kemampuan berbahasa Inggris sebagai pintu menuju pengetahuan dunia.

"Beliau membuka pintu kelas dan mengatakan bahwa keterampilan bahasa Inggris membuka pintu pengetahuan dunia. Pesan itu terus saya ingat hingga sekarang," katanya.

Menurut Daniel, anak-anak Papua tidak seharusnya dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan identitas budaya atau menjadi bagian dari masyarakat global.

Keduanya harus berjalan beriringan agar lahir generasi yang memiliki akar budaya yang kuat sekaligus siap menghadapi persaingan internasional.

"Mereka harus mengenal tanah, budaya, nilai, dan masyarakatnya. Namun pada saat yang sama mereka juga membutuhkan kunci untuk membuka kesempatan dunia," ujarnya.

Pada tahap awal, implementasi Pearson Edexcel diterapkan kepada sekitar 25 persen peserta didik, yakni siswa kelas 4 dan kelas 7.

Mata pelajaran yang menggunakan kurikulum tersebut meliputi Bahasa Inggris, Matematika, Sains, Computing, dan Global Citizenship.

Sementara Bahasa Indonesia serta Pendidikan Agama tetap menggunakan Kurikulum Nasional.

Daniel menegaskan internasionalisasi pendidikan bukan berarti menghilangkan identitas Papua, tetapi membangun keseimbangan antara standar pendidikan global dengan nilai-nilai lokal.

Ia menambahkan, keberhasilan program ini tidak diukur dari banyaknya istilah internasional yang digunakan di lingkungan sekolah, melainkan dari perubahan karakter peserta didik.

"Ukurannya adalah apakah mereka semakin berani, mampu bekerja sama, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan memiliki tujuan hidup yang jelas. Itulah keberhasilan yang sesungguhnya," katanya.

Vice President Community Relations PT Freeport Indonesia, Engel Enoch, menyampaikan apresiasi atas perkembangan SATP selama lebih dari satu dekade.

Menurutnya, berbagai prestasi yang telah diraih para siswa merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi seluruh pihak yang terlibat.

"Kami bangga melihat banyak kemajuan yang telah dicapai. Berbagai penghargaan dan keberhasilan anak-anak mengikuti berbagai event besar merupakan hasil kerja keras dan komitmen semua pihak," ujar Engel.

Ia berharap penerapan Pearson Edexcel semakin memperkuat kualitas pendidikan di Papua sekaligus melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas sebagai anak Papua.

Sementara itu, Kepala Seksi Kurikulum SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Wilhelmus Manggo, menilai program tersebut merupakan langkah strategis untuk meningkatkan mutu pembelajaran.

Menurutnya, Pearson Edexcel bukan sekadar mengganti sistem pembelajaran, tetapi memperkuat proses belajar mengajar agar peserta didik mampu menerima, memahami, dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang diberikan guru.

"Program ini merupakan sebuah capaian untuk membawa pendidikan menjadi lebih baik. Kami berharap siswa menjadi lebih kreatif, mampu berkolaborasi, dan berpikir kritis," katanya.

Wilhelmus mengungkapkan implementasi program akan dilakukan secara bertahap. Setelah diterapkan di kelas 4 dan kelas 7, kurikulum internasional tersebut direncanakan diperluas ke kelas 5 dan kelas 8 pada tahap berikutnya.

Menutup sambutannya, Wilhelmus mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, dunia usaha, yayasan, guru hingga masyarakat, untuk terus memperkuat sinergi dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Mimika.

Ia menekankan bahwa profesionalisme guru menjadi salah satu kunci utama dalam membangun sumber daya manusia Papua yang unggul dan berdaya saing.

"Kami berharap ke depan akan lahir generasi penerus yang kompeten dari Sekolah Asrama Taruna Papua dan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan Papua maupun Indonesia," pungkasnya.

Perwakilan YPMAK, Billy Korwa, turut memberikan apresiasi atas inovasi yang terus dilakukan SATP dalam meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak Papua.

Menurutnya, penerapan Pearson Edexcel menjadi langkah penting untuk mempersiapkan generasi muda yang memiliki wawasan global dan mampu mengikuti perkembangan teknologi.

"Program ini sangat baik. Kita ingin membawa anak-anak Papua ke ruang global, sehingga mereka mampu berpikir global dan bertindak secara global," tuturnya. (ron)