Timika, fajarpapua.com - BAGI masyarakat di kampung-kampung terpencil Kabupaten Mimika, mendapatkan layanan kesehatan tidak selalu mudah. Jarak, kondisi geografis, serta cuaca menjadi tantangan tersendiri. Namun keterbatasan itu tidak menghentikan langkah Tim Layanan Kesehatan Bergerak (LKB) Yayasan Papua Lestari (Yapari), mitra kerja Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), untuk mendatangi masyarakat secara langsung.
Melalui Program Kampung Sehat, tim membawa tenaga kesehatan lengkap menyusuri wilayah pesisir dan kampung-kampung terpencil di Mimika. Dokter, perawat, bidan, apoteker, analis kesehatan hingga asisten LKB hadir memberikan pelayanan yang dibutuhkan masyarakat.
“Dalam layanan kesehatan bergerak ini terdapat dokter, perawat, bidan, apoteker, analis kesehatan, serta asisten LKB yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat,” ujar Program Manajer Kampung Sehat Yapari, Ibrahim Musa.
Layanan tidak hanya menyasar enam kampung lokasi Program Kampung Sehat. Tim juga bergerak ke berbagai kampung di Distrik Mimikan Barat Jauh, Mimika Barat Tengah dan Mimika Tengah.
Di Distrik Mimika Barat Jauh, pelayanan menjangkau Yapakopa, Aindua dan Ararau. Perjalanan kemudian berlanjut ke Pronggo, Kipia, Akar, Mapar, Wumuka dan Kapiraya di Distrik Mimika Barat Tengah. Sementara di Distrik Mimika Tengah, tim melayani masyarakat Atuka, Timika Pantai, Kekwa Baru dan Kekwa Lama.
Setiap perjalanan membutuhkan waktu tidak sebentar. Satu trip pelayanan berlangsung sekitar 20 hari sebelum tim kembali ke Timika untuk melakukan evaluasi dan menyiapkan perjalanan berikutnya.
“Dalam satu kali perjalanan, tim memberikan pelayanan selama kurang lebih 20 hari. Setelah itu mereka kembali ke Timika untuk membuat laporan, mengisi kembali stok obat-obatan, menyiapkan bahan makanan, kemudian kembali lagi ke kampung sesuai jadwal pelayanan,” ucapnya.
Perjalanan menuju kampung-kampung tersebut sangat bergantung pada kondisi alam. Cuaca buruk dapat membuat tim harus bertahan lebih lama di satu lokasi sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Dalam kondisi seperti itu, jadwal pelayanan harus menyesuaikan keadaan lapangan.
“Kalau cuaca buruk, tim harus menunggu hingga kondisi memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Karena itu, durasi pelayanan bisa berubah menyesuaikan kondisi di lapangan,” ujar Ibrahim Musa.
Pelayanan yang diberikan mencakup pemeriksaan kesehatan umum, pengobatan, pemeriksaan malaria, Pengawasan Minum Obat (PMO) malaria, serta pemeriksaan penyakit menular dan tidak menular. Tim LKB juga berkolaborasi dengan tenaga kesehatan puskesmas setempat agar pelayanan dapat berjalan lebih optimal.
Di antara berbagai persoalan kesehatan, malaria menjadi perhatian utama. Penyakit ini masih menjadi salah satu ancaman kesehatan masyarakat di wilayah pesisir Mimika.
“Target utama kami adalah penanganan malaria hingga tuntas. Jika tim berada di satu kampung selama lima hari, pasien malaria akan dipantau langsung melalui Pengawasan Minum Obat (PMO). Namun jika masa pelayanan telah selesai, pengawasan dilanjutkan oleh kader kesehatan, guru, atau anggota keluarga yang telah diberikan edukasi agar pasien tetap mengonsumsi obat hingga selesai,” tuturnya.
Layanan kesehatan bergerak pada akhirnya bukan sekadar perjalanan tenaga medis dari satu kampung ke kampung lain. Di balik perjalanan panjang, cuaca yang tidak menentu dan keterbatasan akses, ada upaya untuk memastikan masyarakat terpencil tetap memiliki kesempatan memperoleh layanan kesehatan.
Bersama Yapari, YPMAK terus mendorong agar jarak geografis tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan. Dari kampung ke kampung, layanan kesehatan dijemput dan dibawa mendekat kepada mereka yang membutuhkan.








