Lewati ke konten utama

Monev 15 UMKM Binaan YPMAK, Perkuat Pendampingan dan Bangun Jiwa Wirausaha

Redaksi Fajar PapuaPenulis
13.05 WIT3 menit baca44 dibaca
Kadiv Program Ekonomi, Oktovian Jangkup dan Kadiv Monev Program Ekonomi, Monica Maramku ketika mengujungi salahsatu UMKM binaan YPMAK melalui Program Ekonomi.
Kadiv Program Ekonomi, Oktovian Jangkup dan Kadiv Monev Program Ekonomi, Monica Maramku ketika mengujungi salahsatu UMKM binaan YPMAK melalui Program Ekonomi.Foto / YPMAK
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com - MONITORING dan evaluasi (monev) tidak hanya menjadi sarana untuk mengukur keberhasilan program, tetapi juga menemukan berbagai tantangan yang harus segera dibenahi.

Melalui monev terhadap 15 UMKM binaan, Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) memperoleh sejumlah masukan penting untuk memperkuat keberlanjutan usaha para penerima manfaat.

Kepala Divisi Monitoring dan Evaluasi (Monev) Sosial Ekonomi YPMAK, Monica Maramku mengatakan tim telah melakukan monitoring terhadap 15 UMKM binaan. Meski sebagian besar pelaku usaha telah menjalankan usahanya dengan baik, masih ditemukan sejumlah kendala yang menjadi bahan evaluasi bersama.

“Dari 15 UMKM yang kami jadwalkan untuk dimonitor, ada yang dapat ditemui dan ada juga yang tutup sehingga harus dijadwalkan ulang. Namun secara keseluruhan mereka sudah menjalankan usaha sebagaimana mestinya,” ujar Monica.

Ia menjelaskan, hasil monitoring menunjukkan bahwa kios-kios binaan masih beroperasi, namun diperlukan penguatan dalam pengelolaan usaha sehari-hari. Mulai dari kedisiplinan membuka dan menutup kios, pencatatan pemasukan, hingga membangun rasa memiliki terhadap usaha yang dijalankan.

“Yang kami harapkan pelaku usaha benar-benar merasa bahwa kios itu miliknya sehingga dikelola dengan penuh tanggung jawab, bukan sekadar menjalankan usaha seolah-olah milik orang lain. Ini menjadi salah satu temuan penting dan akan menjadi evaluasi bersama YPMAK dengan para mitra, yakni BTN, CV Amungsa Berjaya, dan IJB,” ungkapnya.

Selain itu, tim juga menemukan beberapa persoalan fisik maupun operasional. Ada bangunan kios yang mulai mengalami kerusakan, seperti retak-retak, sementara beberapa penerima manfaat telah menghabiskan stok barang dagangan tetapi belum memperoleh keuntungan yang memadai.

Dalam pelaksanaan monev, tim mengacu pada Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk memastikan hak dan kewajiban seluruh pihak, baik penerima manfaat maupun mitra pendistribusi, berjalan sesuai ketentuan.

Monica mengungkapkan, salah satu kendala utama yang dihadapi pelaku usaha adalah proses pengadaan kembali stok barang. Ketika barang dagangan habis, proses pengajuan sering memerlukan waktu cukup lama. Bahkan, barang yang diterima terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Misalnya, rokok merupakan barang yang paling cepat habis karena permintaannya tinggi. Tetapi saat mereka mengajukan pengadaan, yang datang justru lebih banyak barang lain. Akibatnya kebutuhan pelanggan tidak terpenuhi,” jelasnya.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada keberlangsungan usaha. Ketika barang yang dicari pelanggan tidak tersedia di kios binaan, mereka akan beralih ke kios lain. Setelah terbiasa berbelanja di tempat lain, pelanggan umumnya tidak kembali meskipun stok di kios binaan sudah tersedia.

“Ini menjadi kendala yang hampir terjadi di semua kios binaan. Karena barang yang dibutuhkan tidak ada, pembeli berpindah ke kios lain dan akhirnya tidak kembali lagi,” ungkap Monica.

Lebih jauh, Monica menilai pendampingan tidak hanya menyangkut modal dan fasilitas, tetapi juga pembentukan karakter kewirausahaan. Menurutnya, masih ada penerima manfaat yang belum memiliki jiwa sebagai seorang pengusaha.

“Seorang pengusaha akan terus mencoba meski hari ini hanya memperoleh keuntungan seribu rupiah. Besok dia akan tetap membuka kios. Tetapi kalau sejak awal tidak memiliki jiwa wirausaha, ketika gagal sekali dia langsung berhenti. Temuan seperti ini masih kami jumpai di lapangan,” terangnya.

Karena itu, hasil monitoring ini akan menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pola pembinaan, meningkatkan edukasi kewirausahaan, serta menyempurnakan sistem pendampingan bersama para mitra. Harapannya, seluruh UMKM binaan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang menjadi usaha yang mandiri, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Amungme dan Kamoro.

Komentar (0)

Komentar disimpan di perangkat Anda untuk pratinjau UI. Integrasi server mengikuti modul komentar yang sudah ada di admin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.