Lewati ke konten utama

Belum Punya Rumah Dinas, Guru SDN 11 Tuapa Terpaksa Tempuh Perjalanan Ratusan Kilometer Setiap Hari, Dihantui Rasa Khawatir

Redaksi Fajar PapuaPenulis
13.45 WIT2 menit baca0 dibaca
Para guru SD Negeri 11 Tuapa Mimika saat menjemput anak sekolah dari kampung-kampung
Para guru SD Negeri 11 Tuapa Mimika saat menjemput anak sekolah dari kampung-kampungFoto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Belum punya rumah dinas layak huni memaksa guru-guru SD Negeri 11 Tuapa Mimika harus menempuh perjalanan ratusan kilometer menggunakan bus setiap hari untuk mencapai tempat tugas.

Kondisi tersebut dinilai kurang efektif karena para guru harus menempuh perjalanan jauh melewati hutan dan perkebunan sebelum tiba di sekolah. Selain kelelahan, kondisi perjalanan yang melewati sejumlah area sepi juga membuat para guru merasa khawatir dan takut, terlebih situasi keamanan akhir-akhir ini dinilai kurang kondusif.

Faktor perjalanan yang kurang aman ditambah isu keamanan yang berkembang turut memengaruhi kenyamanan dan psikologis para guru dalam menjalankan tugas.

Kepala SD Negeri 11 Tuapa Mimika, Sipriana Matirani mengatakan, bus yang mengangkut para guru berangkat dari Kota Timika sekitar pukul 05.30 WIT.

Perjalanan menuju lokasi sekolah ditempuh hampir dua jam. Setelah itu, bus masih harus menjemput para siswa di sejumlah kampung sehingga rombongan baru tiba di sekolah sekitar pukul 08.00 WIT.

Rute penjemputan siswa dimulai dari Kampung Kamora Gunung, Kampung Wete, kawasan PAL 1, Area Belokan di Jalan Trans Duma Dama hingga Kampung Warowa Kyura.

"Tentu ini sangat tidak efektif. Mereka sudah kelelahan. Saya mohon kepada dinas agar segera membangun rumah guru sehingga mereka tidak perlu menumpang bus setiap hari dari Kota Timika," ungkap Sipriana.

Menurutnya, usulan pembangunan rumah guru telah disampaikan kepada dinas terkait sejak beberapa bulan lalu. Bahkan, konsultan juga telah datang untuk meninjau lokasi sekolah yang rencananya akan dibangun rumah dinas bagi para guru.

Selain itu, perusahaan kelapa sawit PT Karya Bella Vita yang menjadi lokasi berdirinya sekolah sempat menjanjikan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi para guru. Namun, hingga kini belum ada kejelasan mengenai realisasi janji tersebut.

"Semoga segera dilaksanakan sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lebih maksimal," harap Sipriana.