BERITA UTAMAMIMIKAPAPUA

Laba Freeport Anjlok Hampir 40 Persen, Ini Dampaknya untuk Papua

685
×

Laba Freeport Anjlok Hampir 40 Persen, Ini Dampaknya untuk Papua

Share this article
Tambang PT Freeport Indonesia

Timika, fajarpapua.com – Kinerja keuangan PT Freeport Indonesia sepanjang 2025 mengalami tekanan signifikan.

Dikutip fajarpapua.com dari blombergtechnoz.com, Selasa (24/3) laba bersih perusahaan tambang raksasa yang beroperasi di kawasan Tambang Grasberg, Mimika, Papua Tengah itu dilaporkan anjlok hampir 40 persen.

iklan

Turunnya margin perusahaan itu kabarnya dipicu merosotnya penjualan emas dan tembaga sebagai komoditas utama.

Berdasarkan laporan keuangan terbaru, Freeport mencatat laba bersih sebesar US$ 2,52 miliar atau sekitar Rp 42,07 triliun.

Angka ini turun 38,85 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 4,13 miliar.

Tak hanya laba, pendapatan perusahaan juga ikut terkoreksi. Sepanjang 2025, Freeport membukukan pendapatan sebesar US$ 8,62 miliar, turun dari US$ 10,31 miliar pada tahun sebelumnya.

Penurunan ini menjadi salah satu yang paling tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Emas dan Tembaga Jadi Biang Tekanan

Penurunan kinerja Freeport tak lepas dari melemahnya penjualan dua komoditas utama, yakni emas dan tembaga.

Pendapatan dari emas dalam bentuk konsentrat tercatat turun menjadi US$ 1,81 miliar dari sebelumnya US$ 2,21 miliar.

Sementara itu, penjualan emas olahan juga mengalami penurunan menjadi US$ 1,68 miliar dari US$ 2,02 miliar pada tahun sebelumnya.

Kondisi ini mencerminkan tekanan ganda yang dihadapi sektor tambang global, mulai dari fluktuasi harga komoditas hingga dinamika permintaan pasar internasional.

Dampak ke Papua

Penurunan kinerja PT Freeport Indonesia berpotensi memberi efek berantai terhadap ekonomi di Papua, khususnya wilayah Mimika yang selama ini sangat bergantung pada aktivitas pertambangan.

Selain kontribusi terhadap pendapatan daerah, operasional Freeport juga berkaitan langsung dengan penyerapan tenaga kerja dan berbagai program pemberdayaan masyarakat.

Jika tren penurunan ini berlanjut, bukan tidak mungkin akan berdampak pada aktivitas produksi, investasi, hingga program sosial yang selama ini berjalan di sekitar area tambang.

Kondisi ini menjadi peringatan bagi industri tambang nasional untuk lebih adaptif terhadap perubahan pasar global.

Ketergantungan pada komoditas mentah dinilai masih menjadi titik lemah, terutama saat harga dan permintaan mengalami fluktuasi tajam.

Di sisi lain, penguatan hilirisasi dan diversifikasi produk tambang menjadi langkah strategis yang perlu dipercepat guna menjaga stabilitas kinerja perusahaan di masa mendatang.

Dengan posisi Tambang Grasberg sebagai salah satu tambang emas dan tembaga terbesar di dunia, dinamika kinerja Freeport tak hanya berdampak nasional, tetapi juga menjadi indikator penting bagi industri pertambangan global. (red)

Komentar (0)

Memuat komentar...
📱 WA CHANNEL 📢 LAPOR FP