Timika, fajarpapua.com – Suasana berbeda terasa di Sport Hall Tembagapura, Timika, Papua Tengah, Selasa malam (7/4).
Gedung olahraga milik karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI) itu disulap menjadi panggung pertunjukan seni, lengkap dengan tata cahaya, tata suara, dan panggung megah.
Ratusan penonton yang merupakan karyawan dan keluarga besar Freeport tampak antusias menyaksikan drama musikal bertajuk One Freeport One Family.
Uniknya, para pemain yang tampil bukanlah seniman profesional, melainkan karyawan tambang dari berbagai divisi, yang sehari-hari bekerja di area operasional.
Vice President Corporate Communications PTFI, Katri Krisnati, mengatakan peringatan HUT ke-59 ini terasa istimewa karena menghadirkan kreativitas karyawan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi perusahaan.
“Malam ini sangat istimewa menyaksikan karyawan tambang tampil dalam sebuah drama musikal One Freeport One Family dalam rangka peringatan ulang tahun ke-59 Freeport Indonesia,” ujarnya.
Menurut Katri, pertunjukan ini merupakan hasil kolaborasi besar yang melibatkan karyawan dan keluarga mereka, termasuk anak-anak sekolah di Tembagapura.
Seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri oleh talenta internal, mulai dari audisi hingga latihan intensif yang dilakukan di sela-sela waktu kerja dan sekolah.
“Prosesnya sekitar dua pekan, dengan jadwal latihan yang fleksibel mengikuti aktivitas para pemain. Ini menunjukkan semangat dan dedikasi luar biasa dari seluruh peserta,” katanya.
Drama musikal berdurasi sekitar dua jam tersebut mengangkat kisah kehidupan karyawan di lingkungan tambang yang hidup rukun di tengah keberagaman suku, budaya, adat, dan agama.
Cerita juga menampilkan berbagai dinamika yang dihadapi, mulai dari operasional tambang bawah tanah Grasberg Block Cave hingga tantangan keamanan.
“Pertunjukan ini merupakan refleksi dari peristiwa yang terjadi di area tambang. Di balik berbagai tantangan, tumbuh solidaritas dan rasa persaudaraan yang semakin kuat,” jelas Katri.
Salah satu pemain, Sandi Claudio dari Underground Mine Division, mengaku bangga bisa terlibat dalam pertunjukan tersebut.
Ia merasa cerita yang ditampilkan sangat dekat dengan kehidupan sehari-harinya.
“Drama ini menceritakan kehidupan di tambang bawah tanah. Bahkan saya menemukan kisah cinta di tempat ini, sama seperti yang ditampilkan di panggung,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Dora, karyawati dari Mining Safety Division. Ia mengaku pengalaman tampil di panggung membuka kesempatan untuk menjalin relasi lintas divisi.
“Dari latihan, kami saling mengenal dan membangun chemistry. Tantangan terbesarnya adalah membagi waktu antara pekerjaan dan latihan, tapi semua terbayar saat tampil,” ujarnya.
Sutradara Agus Noor mengungkapkan, pertunjukan ini tidak sekadar karya seni, tetapi juga sarana untuk menyebarkan semangat kebersamaan dan energi positif di lingkungan kerja.
“Seni memberi sentuhan humanis di tengah kesibukan kota tambang. Ini adalah cara berbagi kebahagiaan dan saling menguatkan,” kata Agus.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap tim internal Freeport yang mampu menangani seluruh aspek teknis pertunjukan secara mandiri, mulai dari panggung, sistem suara hingga multimedia.
Menutup pertunjukan, suasana haru menyelimuti ruangan saat seluruh pemain memberikan penghormatan terakhir di atas panggung.
Tepuk tangan meriah dari penonton menjadi bukti apresiasi, bukan hanya atas kualitas pertunjukan, tetapi juga atas semangat kebersamaan yang ditampilkan.
Perayaan HUT ke-59 PTFI pun menjadi simbol kuat bahwa di tengah dinginnya udara Tembagapura, semangat solidaritas keluarga besar Freeport tetap menyala.
“Ini adalah pengingat bahwa kami adalah satu keluarga, satu visi, dan satu kekuatan yang tak tergoyahkan,” tutup Katri. (ron)








Komentar (0)