Lewati ke konten utama
Breaking News

40 Mama Kamoro dari Delapan Kampung Ikut Pelatihan Olahan Pangan Lokal di Timika

Redaksi Fajar PapuaPenulis
16.16 WIT3 menit baca15 dibaca
Mama-mama Kamoro perwakilan dari delapan Kampung  Daskam binaan PT Freeport Indonesia (PTFI) saat ikut pelatihan pengolahan makanan berbahan pangan lokal di Koperasi Maria Bidang Laut Kompleks Keuskupan Timika,  Kamis (11/6) hingga Jumat (12/6).
Mama-mama Kamoro perwakilan dari delapan Kampung Daskam binaan PT Freeport Indonesia (PTFI) saat ikut pelatihan pengolahan makanan berbahan pangan lokal di Koperasi Maria Bidang Laut Kompleks Keuskupan Timika, Kamis (11/6) hingga Jumat (12/6).Foto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Sebanyak 40 mama-mama Kamoro dari delapan kampung Daskam binaan PT Freeport Indonesia (PTFI) mengikuti pelatihan pengolahan makanan berbahan pangan lokal yang berlangsung di Koperasi Maria Bintang Laut, Kompleks Keuskupan Timika, Kamis (11/6) hingga Jumat (12/6).

Pelatihan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Koperasi Maria Bintang Laut, PTFI, serta Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Dinas Ketahanan Pangan, dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung.

Kegiatan ini menjadi bagian dari kelanjutan program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang telah dijalankan PTFI sejak 2017. Dalam Program PRONOMI IV, pelatihan difokuskan pada peningkatan kapasitas masyarakat melalui pengolahan pangan lokal yang memiliki potensi ekonomi.

Peserta dibekali keterampilan mengolah berbagai bahan pangan yang mudah ditemukan di wilayah pesisir dan kampung-kampung binaan, seperti pisang, singkong, ikan, dan tambelo. Produk yang diajarkan diantaranya kerupuk ikan, kerupuk tambelo, lemet, nagasari, cake pisang, hingga pisang molen.

Senior Vice President Sustainable Development/Community Development PTFI Nathan Kum mengatakan, pelatihan tersebut merupakan upaya meningkatkan keterampilan mama-mama Papua dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di lingkungan mereka.

“Kegiatan ini sangat baik. Kami terus mendukung kolaborasi dengan Pemkab Mimika dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia Papua melalui pengolahan pangan lokal yang memiliki nilai ekonomi,” katanya. Menurut Nathan, pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan dapat diteruskan kepada masyarakat lainnya di kampung masing-masing sehingga manfaat pelatihan dapat dirasakan lebih luas.

“Kami berharap ilmu yang diperoleh dapat dibagikan kepada mama-mama lainnya sehingga potensi pangan lokal dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Perwakilan Koperasi Maria Bintang Laut Keuskupan Timika Pater Benyamin Magai Pr menilai pelatihan tersebut memiliki dampak positif karena mendorong masyarakat memanfaatkan potensi pangan lokal yang tersedia di sekitar mereka. Ia mengapresiasi dukungan PTFI dan Pemerintah Kabupaten Mimika yang telah menghadirkan program tersebut serta mengajak peserta mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan sungguh-sungguh.

“Pelatihan seperti ini menjadi salah satu cara untuk memberdayakan masyarakat melalui pemanfaatan pangan lokal yang ada di sekitar kita,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala DP3AP2KB Mimika Yohana Arwam menyampaikan terima kasih kepada PTFI yang terus mendukung berbagai program peningkatan kapasitas masyarakat di Kabupaten Mimika. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta menjadi faktor penting dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal.

“Kami berharap kerja sama seperti ini terus berlanjut karena pemerintah tidak dapat berjalan sendiri. Dengan kolaborasi, peningkatan kapasitas masyarakat dapat dilakukan secara lebih optimal,” katanya.

Yohana juga berpesan kepada seluruh peserta agar memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menambah keterampilan sehingga pangan lokal dapat diolah menjadi berbagai produk kuliner yang bernilai jual.

“Manfaatkan pelatihan ini dengan baik karena ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk mengembangkan aneka produk pangan lokal yang memiliki nilai ekonomi,” pungkasnya. (ron)