Lewati ke konten utama

Bank Indonesia Bangun 'Mesin Ekonomi Baru' Papua, UMKM dan QRIS Jadi Kunci Pertumbuhan Hingga Wilayah 3T

Redaksi Fajar PapuaPenulis
MustofaEditor
07.01 WIT3 menit baca21 dibaca
Petugas Bank Indonesia Perwakilan Papua saat mengedarkan uang rupiah ke daerah 3T.
Petugas Bank Indonesia Perwakilan Papua saat mengedarkan uang rupiah ke daerah 3T.Foto / Ekonomi
Bagikan berita ini
Aa

Penulis : Aman Hasibuan (Wartawan www.fajarpapua.com)

DITENGAH tantangan tingginya biaya distribusi, keterbatasan akses pembiayaan, hingga sempitnya akses pasar, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Papua mulai menggeser pendekatan pengembangan ekonomi daerah.

Tidak hanya menjaga stabilitas moneter, BI kini membangun fondasi ekonomi baru yang bertumpu pada UMKM, digitalisasi, serta penguatan potensi lokal di seluruh Tanah Papua.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Warsono, mengatakan pengembangan UMKM menjadi salah satu strategi utama untuk menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru di empat provinsi wilayah kerja BI Papua, yakni Papua, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

"Saat ini terdapat 45 UMKM binaan aktif Bank Indonesia yang berasal dari sektor pertanian, peternakan, perikanan, industri kreatif hingga makanan dan minuman olahan," ujar Warsono, Senin (13/7).

UMKM Jadi Motor Penggerak Ekonomi

Menurut Warsono, UMKM memiliki posisi strategis karena mampu menyerap tenaga kerja, menggerakkan ekonomi masyarakat, serta memperluas pemerataan pembangunan hingga ke kampung-kampung dan wilayah pedalaman.

Karena itu, BI tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi melakukan pembinaan secara menyeluruh mulai dari peningkatan kualitas produksi, penguatan kelembagaan, legalitas usaha, penyusunan laporan keuangan, hingga membuka akses pembiayaan melalui program business matching dengan perbankan.

Pada sisi pemasaran, BI juga mendorong pelaku usaha memanfaatkan digitalisasi melalui QRIS agar transaksi lebih efisien, pencatatan keuangan lebih baik, sekaligus memperluas akses pasar.

Hasilnya mulai terlihat. Kredit UMKM di Papua pada Triwulan I 2026 tumbuh 0,91 persen (year on year/yoy), berbalik positif dibanding triwulan sebelumnya yang masih terkontraksi sebesar 0,99 persen.

Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 8,42 persen (yoy), meningkat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 6,54 persen, terutama ditopang peningkatan giro dan tabungan.

Peluang Ekonomi Baru Berbasis Budaya dan Kekayaan Alam Papua

Lebih dari sekadar meningkatkan jumlah pelaku usaha, strategi BI diarahkan untuk menciptakan ekonomi baru yang bertumpu pada keunggulan khas Papua.

Papua memiliki kekayaan budaya yang tidak dimiliki daerah lain, mulai dari noken, ukiran Asmat, batik Papua, seni kriya, kopi pegunungan, kakao, pala, sagu, hasil perikanan, hingga rempah-rempah dan berbagai produk hutan bukan kayu.

Seluruh potensi tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi apabila diolah menjadi produk bernilai tambah dan dipasarkan secara lebih luas.

Bagi BI, kekuatan ekonomi Papua ke depan tidak hanya bergantung pada sektor pertambangan, tetapi juga pada kemampuan masyarakat mengolah sumber daya alam secara berkelanjutan serta menjadikan budaya lokal sebagai bagian dari ekonomi kreatif.

Karena itu, hilirisasi produk unggulan daerah menjadi salah satu fokus pengembangan agar komoditas tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi menjadi produk siap konsumsi yang memiliki daya saing di pasar nasional maupun internasional.

Digitalisasi Membuka Pasar Tanpa Batas

Digitalisasi menjadi instrumen penting dalam mempercepat transformasi tersebut.

Melalui penggunaan QRIS dan pemanfaatan platform digital, pelaku UMKM diharapkan tidak lagi bergantung pada pasar lokal.

Produk-produk khas Papua kini memiliki peluang menjangkau konsumen di berbagai daerah bahkan mancanegara.

Selain mempercepat transaksi, digitalisasi juga membantu pelaku usaha memiliki pencatatan keuangan yang lebih baik sehingga meningkatkan kepercayaan lembaga keuangan dalam menyalurkan pembiayaan.

Dari Pegunungan Hingga Pesisir

Komitmen pemerataan pembangunan ekonomi juga diwujudkan melalui Festival UMKM Papua Pegunungan yang melibatkan 52 pelaku usaha Orang Asli Papua (OAP) di Kabupaten Jayawijaya.

Program tersebut membuka akses promosi sekaligus mendorong hilirisasi produk lokal agar memiliki nilai tambah lebih tinggi.