Timika, fajarpapua.com— Menjelang musim haji, calon jemaah diingatkan untuk tidak hanya mempersiapkan fisik dan administrasi, tetapi juga memperkuat kesiapan mental dan spiritual.
Meski saat ini kondisi di Timur Tengah masih belum kondusif karena Peran Iran versus Amerika Serikat dan Israel, namun pemerintah belum merubah jadwal keberangkatan haji tetap berjalan mulai 22 April 2026.
Ketua MUI Mimika, KH. Muh Amin AR, menegaskan persiapan mental menjadi kunci utama agar ibadah haji dapat dijalankan dengan lancar, khusyuk, dan penuh makna.
Menurutnya, ibadah haji bukan sekadar perjalanan religi, tetapi juga ujian fisik dan emosional yang berlangsung di tengah jutaan umat Muslim dari berbagai negara.
Kondisi tersebut menuntut kesiapan mental yang matang agar jemaah mampu menghadapi berbagai tantangan selama di Tanah Suci.
“Persiapan mental sangat penting. Jemaah harus meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT serta menyadari bahwa haji adalah ibadah yang menuntut kesabaran tinggi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ada sejumlah hal penting yang perlu dipersiapkan calon jemaah menjelang keberangkatan haji.
Pertama, meluruskan niat dan memperbanyak taubat agar ibadah terhindar dari sikap riya atau keinginan mencari pengakuan.
Kedua, melatih kesabaran dalam menghadapi kondisi cuaca panas, antrean panjang, serta kepadatan jemaah.
Selain itu, pemahaman manasik haji juga menjadi bekal penting. Dengan mengikuti manasik, jemaah akan lebih memahami tahapan ibadah sehingga dapat menjalankannya dengan lebih tenang dan percaya diri.
Tak kalah penting, lanjutnya, adalah kemampuan mengelola emosi. Jemaah diharapkan mampu menahan amarah, tidak mudah mengeluh, serta menjaga sikap toleransi terhadap sesama jemaah dari berbagai latar belakang budaya.
“Tanamkan sikap tawakal dan ikhlas. Terima setiap ketentuan dengan lapang dada serta ikhlas dalam berkorban, baik waktu, tenaga, maupun harta,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pembersihan jiwa sebelum berangkat, seperti memperbanyak zikir, doa, membaca Al-Qur’an, menyelesaikan urusan dunia termasuk utang piutang, serta mempererat silaturahmi dengan keluarga dan kerabat.
Dengan kesiapan mental dan spiritual yang baik, ibadah haji diharapkan tidak hanya menjadi perjalanan fisik semata, tetapi juga menjadi momentum transformasi diri menuju pribadi yang lebih sabar, ikhlas, dan semakin dekat dengan Allah SWT. (mas)








Komentar (0)