Jayapura, fajarpapua.com – Komunitas kreatif Imaji Papua menggelar kegiatan bertajuk “Impact Papua: Film, Culture & Creativity” di halaman Museum Loka Budaya, Universitas Cenderawasih, Jayapura, Rabu (12/8/2026) sore.
Kegiatan yang dihadiri ratusan warga tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Pemuda Internasional. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku ekonomi kreatif Papua, mulai dari pembuat film dokumenter, fotografer, ilustrator, musisi hingga pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Head of Imaji Papua, Yulika Anastasia mengatakan, kolaborasi dengan berbagai kelompok menjadi salah satu kunci bagi pelaku ekonomi kreatif untuk berkembang bersama sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Papua.
“Impact Papua jadi salah satu ruang tamu bagi para pelaku ekonomi kreatif di Jayapura. Dalam pembuatan film dokumenter, kami berkolaborasi dengan teman-teman lain, seperti fotografer, ilustrator, musik dan UMKM,” ujar Yulika.
Menurutnya, pelaku ekonomi kreatif tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi diperlukan agar setiap pelaku dapat saling menguatkan sekaligus membuka peluang untuk tumbuh bersama.
“Kalau kita berkolaborasi, semua kegiatan yang kita lakukan akan jauh lebih kuat. Kemudian bergandengan tangan bersama-sama agar bisa bertumbuh bersama, terutama di bidang ekonomi,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, Imaji Papua juga meluncurkan film dokumenter produksi 2026 berjudul “Tonk Masih di Sini”.
Film tersebut mengangkat kehidupan masyarakat Papua melalui cerita tentang rantai ekonomi yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai komoditas lokal, seperti sagu, pinang, kopi, sayuran dan hasil pertanian lainnya.
Yulika mengatakan, film tersebut ingin menunjukkan pembangunan di Papua tidak hanya digerakkan pemerintah, tetapi juga masyarakat yang menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari.
“Pesan film itu bahwa pembangunan bukan hanya digerakkan oleh pemerintah, tetapi juga digerakkan oleh masyarakat biasa yang bekerja sehari-hari sebagai petani dan pedagang,” tuturnya.
Film dokumenter tersebut menghadirkan empat tokoh yang memiliki keterkaitan dalam rantai ekonomi meskipun tidak saling bertemu, yakni Moses Yigibalom, petani sekaligus pengusaha kopi di Wamena; Wene Kalolik, petani dan tenaga honorer di Wamena; Mama Agustina Rontini, penjual pinang di Jayapura; serta Yakobus Yatmop, Ketua Kelompok Tani Sagu di Merauke.
Melalui film tersebut, Imaji Papua ingin menghadirkan perspektif mengenai Papua dari kehidupan masyarakat sehari-hari, sekaligus menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah.
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Pemerintahan Kota Jayapura, Sem Stenly Merauje, yang mewakili Wali Kota Jayapura, mengatakan budaya Papua harus terus dijaga oleh generasi muda.
“Tong masih di sini, tong masih berkarya. Kalimat sederhana ini mengandung makna yang dalam. Kita masih ada, kita masih berdiri, dan yang paling penting, kita masih terus berkarya,” ujar Sem.
Menurutnya, Kota Jayapura memiliki kekayaan budaya yang beragam. Keberagaman suku, tradisi, bahasa dan kearifan lokal merupakan identitas sekaligus kekuatan yang harus dijaga dan dikembangkan.
Di tempat yang sama, Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Papua, Bony Asso, yang mewakili Gubernur Papua, mengatakan film tersebut dapat menjadi sarana storytelling untuk memperkenalkan cerita tentang Papua dari perspektif masyarakatnya.
“Kegiatan ini dapat menjadi ajang storytelling untuk membangun cerita tentang Papua. Kami menyambut baik kehadiran film Tonk Masih di Sini yang mengangkat potensi masyarakat Papua melalui rantai ekonomi masyarakat kecil,” kata Bony.
Bony menilai kegiatan yang melibatkan berbagai sektor tersebut juga dapat menjadi ruang untuk menampilkan cerita-cerita lokal Papua. Selain menjadi media ekspresi, karya kreatif diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, terutama generasi muda.
Fashion Show Noken Padukan Tradisi dan Desain Kontemporer
Selain peluncuran film dokumenter, Impact Papua juga menghadirkan Fashion Show Noken Tradisi bertema kontemporer.
Peragaan busana tersebut menjadi ruang bagi desainer muda Papua untuk mengembangkan kreativitas sekaligus mengangkat kekayaan budaya lokal melalui desain yang lebih modern.
Lima desainer muda Papua, yakni Agusta Bunai, Pretty Syul Rogi, Margaretha Uktoselya, Lusi Umbora dan Alfianty Mandosir, menampilkan koleksi yang memadukan kearifan lokal dengan desain kontemporer.
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa budaya Papua dapat terus berkembang melalui kreativitas generasi muda tanpa kehilangan identitas dan nilai tradisinya. (hsb)














