Lewati ke konten utama

Meski Dihuni Banyak 'Jenderal', Ternyata Makodam III Kali Kopi Tidak Diakui, Sebby : Bukan Dibentuk Sembarangan

Redaksi Fajar PapuaPenulis
20.07 WIT3 menit baca0 dibaca
Sebby Sambom
Sebby SambomFoto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Juru Bicara TPNPB OPM, Sebby Sambom, memberikan tanggapan terhadap pernyataan dan struktur komando yang digunakan kelompok TPNPB Kodap III Kali Kopi.

Melalui video yang disampaikan pada Selasa (16/9/2026), Sebby menegaskan penggunaan istilah dan pembentukan Kodap dalam struktur TPNPB yang dipimpinnya bukan keputusan sepihak, melainkan hasil keputusan kolektif organisasi.

Pernyataan itu sekaligus menjadi respons Sebby terhadap kelompok Kali Kopi yang disebutnya memiliki pandangan berbeda mengenai struktur komando TPNPB di wilayah Papua Tengah.

“Di sini kami tegaskan bahwa kami tidak menggunakan Kodap sembarangan. Kami menggunakan Kodap berdasarkan hasil keputusan bersama dan tetap bekerja sesuai keputusan kolektif,” kata Sebby.

Sebby kemudian mempersoalkan penggunaan istilah Kodam yang menurutnya digunakan sejumlah kelompok di wilayah seperti Kali Kopi, Ilaga, Intan Jaya dan Tolikara.

Ia membandingkan istilah tersebut dengan Kodap yang digunakan dalam struktur TPNPB.

“Kenapa kami menggunakan Kodap sementara mereka di Timika menggunakan Kodam? Karena Kodam itu daerah komando militer aparat keamanan punya. Kami tidak mau menggunakan struktur yang sama. Kami harus berbeda,” ujarnya.

Menurut Sebby, perbedaan istilah tersebut bukan sekadar persoalan nama, tetapi berkaitan dengan identitas dan struktur komando yang mereka klaim dibangun melalui keputusan organisasi.

Ia menegaskan tidak ingin struktur yang dibentuk TPNPB dianggap sebagai hasil keputusan individu atau kelompok tertentu tanpa mekanisme organisasi.

Kali Kopi Disebut Bisa Jadi Kodap ke-37

Sebby juga menanggapi kemungkinan kelompok Kali Kopi membentuk Kodap sendiri.

Ia menyebut, apabila kelompok Kali Kopi ingin mengajukan pembentukan Kodap dan tetap berada dalam struktur komando yang diklaimnya sebagai Komando Nasional TPNPB, maka wilayah tersebut akan menjadi Kodap ke-37.

“Kalau Kali Kopi mau buat Kodap sendiri, berarti Kodapnya 37 kalau masuk di komando. Kalau tidak mengakui, ya silakan saja,” katanya.

Sebby meminta kelompok yang berbeda pandangan mengenai struktur komando agar memperjelas posisi mereka.

Ia bahkan mengatakan apabila kelompok tersebut tidak berada di bawah struktur komando yang disebutnya sebagai Komando Nasional TPNPB, maka pihaknya akan menyatakan tidak mengetahui keberadaan maupun pertanggungjawaban kelompok tersebut.

“Kalau kalian tidak mau bergabung, semua dunia tanya kami, kami jawab kami tidak tahu. Bisa jadi itu di luar kami,” ujarnya.

Sebby Klaim TPNPB Sudah Reformasi Struktur

Dalam video tersebut, Sebby juga mengaitkan perbedaan struktur tersebut dengan apa yang disebutnya sebagai reformasi militer TPNPB setelah KTT Biak.

Ia mengakui reformasi dilakukan dengan menyatukan sejumlah struktur kepemimpinan dan panglima ke dalam satu struktur komando nasional.

Sebby menyebut Jenderal Goliat Tabuni sebagai Panglima, Legian Gabriel Menisidetdagau sebagai Wakil Panglima, Mayedesato sebagai Kepala Staf, Mayeteleka Telenggen sebagai Kepala Operasi dan dirinya sebagai juru bicara.

Ia juga mengklaim terdapat 36 Kodap dalam struktur yang disebutnya sebagai Komando Nasional TPNPB.

Menurut Sebby, pembentukan dan perluasan Kodap dilakukan berdasarkan wilayah serta kelompok suku yang ada di Papua.

“Pelebaran Kodap kami kasih sesuai dengan suku-suku yang ada supaya mereka mengatur perang sesuai budaya dan hukum perang,” katanya.

Ia menyerukan agar kelompok-kelompok bersenjata yang mengklaim memperjuangkan kemerdekaan Papua tidak berjalan sendiri-sendiri.

Ia menyebut perbedaan kelompok dan struktur komando justru harus diselesaikan melalui penyatuan di bawah satu komando.

“Ini bukan perjuangan orang Amungme, Kamoro, Nduga atau suku lainnya untuk merdeka sendiri. Ini satu bangsa Papua, dari Sorong sampai Merauke, satu komando militer,” ujarnya.

Dalam siaran pers sebelumnya, Makodam III Kali Kopi meminta Sebby agar menjelaskan alasan keberadaan mereka tidak diakui. Padahal, markas tersebut berdiri sejak tahun 1961 yang dihuni sejumlah jenderal (belum diverifikasi proses karier kepangkatan hingga menyandang bintang di pundak). Nama-nama yang disebut antara lain Jenderal Jeck Melyan Kemong, Jenderal Goliat Tabuni, Jenderal Lekagak Talengen, Jenderal Titus Tamore, Jenderal Elmi Silas Kogoya, Jenderal Jhon Kelly Kwalik, Jenderal Yogi, Jenderal Daud Lokbere, Jenderal Titus Murib dan Jenderal Anis Beanal.(ron)