Biak, fajarpapua.com – Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) II Provinsi Papua Tahun 2026 resmi berakhir. Kota Jayapura berhasil keluar sebagai juara umum setelah meraih lima predikat Champion dalam ajang yang berlangsung di Kabupaten Biak Numfor pada 28–31 Oktober 2026.
Keberhasilan tersebut sekaligus mengantarkan Kota Jayapura membawa pulang Piala Bergilir Gubernur Papua yang diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Biak Numfor, Jimmy Carter Rumbarar Kapissa, kepada Ketua Kontingen Kota Jayapura, Dr. Frans Pekey, pada acara penutupan, Sabtu (31/10).
Penutupan Pesparani II Papua berlangsung di halaman SD Santo Yosep 2 Biak dan dihadiri Bupati Biak Numfor Markus Octovianus Mansnembra, yang mewakili Gubernur Papua, serta sejumlah pejabat dan perwakilan kontingen peserta.
Pesparani II Papua mengusung motto “Satu Nada, Satu Iman, Satu Papua”. Kegiatan ini diikuti enam kontingen, yakni Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Keerom, Kepulauan Yapen, Waropen, dan tuan rumah Biak Numfor.
Dalam sambutan Gubernur Papua yang dibacakan Wakil Bupati Biak Numfor, Jimmy Carter Rumbarar Kapissa, disampaikan apresiasi kepada seluruh kontingen yang telah berpartisipasi dan menyukseskan kegiatan tersebut.
Ia menegaskan, Pesparani bukan sekadar perlombaan untuk menentukan siapa yang terbaik, tetapi juga menjadi wadah pembinaan iman, pengembangan potensi umat, serta sarana melestarikan musik gerejawi.
“Suara yang indah bukan hanya yang enak didengar, tetapi yang lahir dari hati tulus untuk kemuliaan Tuhan,” demikian pesan Gubernur dalam sambutannya.
Kepada kontingen yang berhasil meraih prestasi, ia berharap agar dapat mengemban amanah mewakili Provinsi Papua pada Pesparani tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung di Manado, November 2027.
Sementara bagi peserta yang belum meraih hasil maksimal, diharapkan tetap semangat karena kemenangan sesungguhnya tidak hanya diukur dari penghargaan, tetapi juga dari pertumbuhan iman dan semakin kuatnya persaudaraan.
Ketua II LP3K Provinsi Papua, Pastor Dr. Konstantinus Bahang, OFM, yang mewakili Ketua Umum LP3K Provinsi Papua, turut menyampaikan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan Pesparani II.
Menurutnya, kegiatan tersebut telah menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan sekaligus memperkuat iman umat Katolik di Provinsi Papua.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Biak Numfor dan seluruh masyarakat yang telah menerima para peserta dengan penuh keramahan.
“Terima kasih Biak Numfor, telah menyambut kami dengan rumah dan hati yang terbuka. Semoga pengalaman ini menjadi fondasi Pesparani III nanti yang lebih baik lagi,” ujarnya.
Ketua Panitia Pesparani II Provinsi Papua, Arnold Tethool, dalam laporannya menyampaikan bahwa seluruh 13 kategori perlombaan telah diselesaikan dengan baik.
Sejumlah perlombaan paduan suara dilaksanakan di Swiss-Belhotel Cendrawasih, sedangkan kategori Cerdas Cermat Rohani, Mazmur, dan Bertutur Kata Kitab Suci berlangsung di Gereja Katolik Kerahiman Ilahi.
Penilaian dilakukan oleh dewan juri dengan memberikan predikat Champion, Gold, Silver, dan Bronze.
Arnold menjelaskan, motto “Satu Nada, Satu Iman, Satu Papua” memiliki makna mendalam tentang persatuan di tengah keberagaman.
Menurutnya, perbedaan justru menjadi harmoni, iman menyatukan umat melampaui batas wilayah, sedangkan Papua merupakan satu rumah dan tanggung jawab bersama.
Dengan berakhirnya Pesparani II Papua 2026, diharapkan semangat persatuan, toleransi, persaudaraan, dan kecintaan terhadap seni musik gerejawi terus tumbuh di tengah masyarakat.
Keberhasilan penyelenggaraan di Biak Numfor juga menjadi modal penting untuk mempersiapkan kontingen Papua menghadapi Pesparani tingkat nasional di Manado pada 2027.
Pesparani bukan hanya meninggalkan catatan prestasi, tetapi juga pesan bahwa melalui satu nada dan satu iman, masyarakat Papua dapat terus menjaga persaudaraan dalam keberagaman. (red)









