Lewati ke konten utama

Minim Petugas, Tujuh Napi Kabur dan Ganja Kerap Dilempar ke Lapas Narkotika Jayapura

Redaksi Fajar PapuaPenulis
22.19 WIT2 menit baca30 dibaca
Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Jayapura, Jimreves Engel Stender Muloke
Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Jayapura, Jimreves Engel Stender MulokeFoto / JAYAPURA
Bagikan berita ini
Aa

Jayapura, fajarpapua.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Jayapura masih melakukan pencarian terhadap tujuh narapidana yang kabur dari lapas tersebut pada Sabtu (31/10/2026).

Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Jayapura, Jimreves Engel Stender Muloke mengatakan, ketujuh narapidana tersebut telah ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO). Pihaknya juga sudah meminta bantuan aparat kepolisian untuk melakukan pencarian dan penangkapan.

“Sampai sekarang kami masih melakukan pencarian terhadap tujuh tahanan yang telah ditetapkan sebagai DPO. Kami juga sudah meminta bantuan kepada aparat kepolisian untuk melakukan pencarian dan penangkapan apabila ditemukan,” jelas Jimreves kepada wartawan di Lapas Narkotika Jayapura, Rabu (4/11/2026).

Ia mengatakan, pihaknya telah menemukan beberapa titik yang diduga menjadi tempat persembunyian para narapidana tersebut. Foto-foto ketujuh napi yang kabur juga sudah disebarkan kepada aparat kepolisian untuk memudahkan proses pencarian, termasuk tiga warga negara asing asal Papua Nugini (PNG).

Menurut Jimreves, tiga warga negara asing asal PNG yang menghuni Lapas Narkotika Jayapura rata-rata tidak memiliki kartu pelintas batas sehingga diduga masuk ke wilayah Indonesia secara ilegal.

Ia menjelaskan, para narapidana tersebut melarikan diri dengan membuka pintu sel, kemudian memanjat tembok untuk keluar dari area lapas.

Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan jumlah petugas pengamanan dibandingkan jumlah penghuni lapas yang mencapai ratusan orang.

Selain persoalan pelarian narapidana, pihak lapas juga masih menghadapi masalah peredaran narkotika dari luar. Jimreves mengaku, pelemparan ganja ke dalam lapas masih sering terjadi dan diduga dilakukan oleh orang yang berperan sebagai kurir.

“Sering terjadi pelemparan ganja ke dalam lapas karena petugas kami terbatas. Misalnya, dalam satu ruang tahanan hanya dijaga delapan sampai 10 orang petugas. Jadi, tidak semua tempat bisa dijaga karena keterbatasan personel. Akibatnya, ada ganja yang lolos masuk ke dalam lapas,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, ganja biasanya dilemparkan melalui bagian samping dan belakang lapas.

Sementara itu, terkait keberadaan telepon seluler di dalam lapas, Jimreves mengatakan perangkat tersebut diduga diperoleh melalui pengunjung. Namun, para narapidana tidak pernah mengakui asal-usul telepon seluler yang mereka miliki sehingga menyulitkan petugas melakukan pengungkapan.

Ke depan, pihaknya akan meningkatkan pengamanan dan pengawasan melalui patroli rutin di lingkungan lapas guna mencegah kejadian pelarian narapidana maupun masuknya barang terlarang terulang kembali. (hsb)