Lewati ke konten utama

Rubah Air Payau, PLN Hadirkan Teknologi Desalinasi di Agats, Masjid Saiful Al-Bukhori dan Warga Kini Nikmati Air Bersih

Redaksi Fajar PapuaPenulis
15.26 WIT3 menit baca70 dibaca
Warga sekitar mengambil air hasil pengolahan mesin desalinasi bantuan TJSL PLN di Masjid Saiful Al-Bukhori, Agats. Teknologi tersebut mampu mengolah air payau atau air keruh menjadi air tawar yang lebih jernih dan layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Warga sekitar mengambil air hasil pengolahan mesin desalinasi bantuan TJSL PLN di Masjid Saiful Al-Bukhori, Agats. Teknologi tersebut mampu mengolah air payau atau air keruh menjadi air tawar yang lebih jernih dan layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.Foto / Papua
Bagikan berita ini
Aa

Agats, fajarpapua.com – PT PLN (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) menghadirkan fasilitas teknologi desalinasi air bersih untuk Masjid Saiful Al-Bukhori di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan.

Bantuan ini menjadi solusi atas keterbatasan air bersih yang selama ini dialami jamaah dan masyarakat sekitar akibat kondisi geografis Agats yang didominasi rawa-rawa dan perairan payau.

Mesin pengolahan air tersebut mampu memproduksi hingga 2.200 liter air bersih per hari dengan mengolah air payau maupun air keruh menjadi air tawar yang jernih, tidak berbau, dan tidak berasa.

Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air bersih bagi sekitar 200 jiwa, termasuk jamaah, santri, dan warga di sekitar masjid.

Sebelumnya, Masjid Saiful Al-Bukhori telah memiliki sumur bor. Namun air yang dihasilkan masih keruh sehingga kurang nyaman digunakan untuk berwudu maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi itu membuat pengurus masjid harus membeli air galon untuk memenuhi kebutuhan air minum, terutama saat kegiatan keagamaan berskala besar.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Saiful Al-Bukhori, Burhan Ar Rahman, mengaku bersyukur atas bantuan yang diberikan PLN.

"Alhamdulillah, dengan adanya bantuan mesin pengolahan air dari program TJSL PLN, air dari sumur bor yang sebelumnya belum layak diminum kini dapat diolah menjadi air yang bersih. Bantuan ini sangat mendukung kenyamanan jamaah dalam beribadah serta menekan biaya operasional masjid. Kami berkomitmen merawat dan mengoperasikan mesin ini dengan baik agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang," ungkap Burhan, Jumat (7/8/2026).

Tak hanya pengurus masjid, warga sekitar juga merasakan manfaatnya. Selama ini masyarakat mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat musim kemarau tiba, mereka harus mencari sumber air lain atau membeli air bersih dengan harga yang relatif mahal.

Warga Kampung Baru, Distrik Agats, Ottouw G. Mirino (40), mengatakan kehadiran mesin pengolahan air tersebut membawa perubahan besar bagi masyarakat.

"Puji Tuhan, setelah ada mesin dari PLN, kami sekarang lebih mudah mendapatkan air bersih yang layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Bantuan ini sangat membantu, terutama bagi anak-anak dan orang tua. Semoga program TJSL dari PLN terus berlanjut dan menjangkau wilayah lain yang masih kesulitan air," katanya.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat, Roberth Rumsaur, mengatakan bantuan ini merupakan bentuk komitmen PLN dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tidak hanya melalui penyediaan listrik, tetapi juga melalui pemenuhan kebutuhan dasar.

"PLN menyadari bahwa akses air bersih adalah kebutuhan dasar yang sangat krusial, terlebih di wilayah dengan kondisi geografis yang menantang seperti Agats. Melalui program TJSL ini, kami berharap teknologi desalinasi dapat meringankan beban ekonomi warga, meningkatkan taraf kesehatan, dan mendukung kenyamanan beribadah. Ini merupakan komitmen PLN dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya menjamin ketersediaan dan pengelolaan air bersih yang berkelanjutan," bebernya.

Melalui program ini, PLN berharap sinergi dengan masyarakat Asmat terus terjalin sekaligus membantu menekan risiko munculnya penyakit akibat keterbatasan akses air bersih di wilayah terpencil.(hsb)