"Berdasarkan analisis kami, bulan September ini kasus masih tetap akan naik, meski dalam kurun waktu satu hingga dua pekan ke depan bisa turun lagi. Tapi itu tidak akan lama karena bisa saja di bulan Desember terutama menjelang Natal bisa saja terjadi kenaikan atau puncak kasus baru bertambah banyak," jelasnya.
Menurut Reynold, kecepatan pemeriksaan usap atau swab di Mimika kini masih terbatas meskipun di wilayah itu sudah tersedia dua mesin PCR.
"Persoalannya belum semua orang datang melakukan testing, artinya masih ada kesenjangan test PCR di Mimika sekarang diprioritaskan untuk karyawan dan untuk kontak erat. Mestinya kalau reagen tersedia dalam jumlah yang cukup ditambah dengan mesin PCR yang cukup dan sumber daya petugas yang memadai maka semua orang bisa melakukan pemeriksaan massal menggunakan mesin PCR di Mimika," jelasnya.
TGTPP Mimika menyadari pembelajaran jarak jauh yang dilakukan oleh sekolah-sekolah setempat selama beberapa bulan sejak Maret memang sama sekali tidak bisa menjawab kebutuhan siswa untuk mendapatkan materi pembelajaran yang memadai.
Namun melihat situasi dan kondisi perkembangan kasus COVID-19 yang kian mengkhawatirkan, maka pembelajaran tatap muka hingga kini belum bisa diperbolehkan, terutama di wilayah zona merah.
Hingga Selasa (8/9), jumlah kumulatif warga Mimika yang telah terpapar virus corona jenis baru itu sudah mencapai 875 orang.
Sejauh ini sudah 726 orang pasien dinyatakan sembuh, 138 pasien masih menjalani perawatan dan isolasi di rumah sakit, empat pasien dirujuk ke luar daerah dan tujuh pasien meninggal dunia.(boy/ant)








