Lewati ke konten utama

YPMAK Menakar Efektivitas Layanan Kampung Sehat di Aikawapuka

Redaksi Fajar PapuaPenulis
15.47 WIT3 menit baca29 dibaca
Kepala Divisi Monev Kesehatan YPMAK, Riana Wadibar menanyakan pelayanan Program Kampung Sehat kepada warga di Kampung Aikawapuka, Rabu (6/5/2026).
Kepala Divisi Monev Kesehatan YPMAK, Riana Wadibar menanyakan pelayanan Program Kampung Sehat kepada warga di Kampung Aikawapuka, Rabu (6/5/2026).Foto / YPMAK
Bagikan berita ini
Aa

KUALITAS layanan kesehatan masyarakat di wilayah terpencil tidak hanya diukur dari tersedianya tenaga medis, tetapi juga dari keberlanjutan pelayanan, keterlibatan warga, serta dampaknya terhadap perubahan perilaku hidup sehat.

Pendekatan inilah yang menjadi fokus evaluasi Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) saat melakukan pemantauan Program Kampung Sehat di Kampung Aikawapuka, Distrik Mimika Barat, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.

Melalui Divisi Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kesehatan, YPMAK meninjau secara langsung implementasi pelayanan kesehatan untuk memastikan program berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.

Kegiatan tersebut dipimpin Kepala Divisi Monev Kesehatan YPMAK, Riana Wadibar didampingi Staf Perencanaan Program Kesehatan, Foeby Lakasa. Pemantauan lapangan menjadi bagian penting dalam menilai efektivitas program berbasis kampung.

Evaluasi semacam ini memberi gambaran utuh mengenai kualitas interaksi tenaga kesehatan dengan masyarakat, tingkat keterjangkauan layanan, serta respons warga terhadap edukasi kesehatan yang diberikan. “Kami ingin melihat bagaimana dampak layanan dari mitra kepada masyarakat apakah benar-benar membantu dan bagaimana hubungan tenaga kesehatan dengan warga di kampung,” ujarnya.

Penilaian tidak berhenti pada jumlah pasien yang dilayani. Evaluasi juga mencakup capaian pemeriksaan kesehatan, kegiatan penyuluhan, serta peningkatan pemahaman masyarakat me ngenai pola hidup sehat.

Secara ilmiah, perubahan perilaku ke sehatan masyarakat merupakan indikator penting keberhasilan intervensi layanan primer. Kesadaran menjaga kesehatan akan memperkuat ketahanan komunitas dalam mencegah penyakit yang dapat dihindari.

Riana menjelaskan, keberhasilan pro gram tidak semata ditentukan oleh tindakan pengobatan, melainkan sejauh mana masyarakat memiliki kesa daran kolektif untuk menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. YPMAK hadir sebagai mitra pemerintah dalam memperkuat layanan kesehatan kampung, sekaligus membuka ruang evaluasi terbuka dari masyarakat.

“Jika ada kendala ataupun kekurangan dari tim Kampung Sehat, bapak dan ibu bisa sampaikan kepada kami,” ujar Riana di hadapan warga setempat.

Respon positif datang dari warga Kampung Aikawapuka. Kehadiran tenaga kesehatan dinilai memberi rasa aman karena pelayanan tersedia secara konsisten, bahkan di luar jam layanan normal ketika kondisi darurat terjadi.

“Siang, sore, bahkan malam mereka tetap bekerja dengan baik,” ujar salah seorang warga Kampung Aikawapuka, Abel Marnoma.

Apresiasi serupa disampaikan Sekretaris Kampung Aikawapuka, Paskalis. Ia menilai pelayanan kesehatan berjalan optimal, termasuk program pemberian makanan tambahan bagi masyarakat yang membutuhkan. “Keberadaan tenaga kesehatan sangat kami butuhkan karena sangat membantu masyarakat,” ungkap Paskalis.

Dengan jumlah penduduk 980 jiwa, keberadaan Program Kampung Sehat memberi dampak signifikan terhadap akses layanan kesehatan dasar di kampung tersebut.

Pelayanan di Aikawapuka dijalankan oleh perawat Ravensca Marlissa, Gita Saba, dan bidan Yunita Putri Salipadang. Ketiganya bekerja secara kolaboratif bersama Puskesmas Pembantu (Pustu) dengan layanan rutin pukul 08.00 hingga 13.00 WIT serta tetap siaga untuk kondisi darurat.

Dalam praktik pelayanan, tim menemukan Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA) sebagai penyakit dominan. Kondisi ini dipengaruhi paparan asap rokok dan minimnya ventilasi saat masyarakat memasak menggunakan tungku tradisional.

Selain pelayanan kuratif, intervensi preventif terus diperkuat melalui pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan anak-anak setiap Senin hingga Sabtu. Kasus malaria juga tetap dipantau meski angkanya relatif kecil. Pendekatan aktif dilakukan agar pengobatan berjalan tuntas dan mencegah penularan berulang.

“Kami juga melakukan pemantauan minum obat malaria. Jika masyarakat tidak datang, kami kunjungi ke rumah sampai pengobatan tuntas,” ujar perawat Gita Saba.

Model pelayanan berbasis kunjungan rumah seperti ini terbukti efektif dalam menjangkau masyarakat dengan keterbatasan mobilitas. Pendekatan tersebut menunjukkan pelayanan kesehatan kampung bukan sekadar layanan administratif, melainkan praktik kemanusiaan yang hadir langsung di tengah kebutuhan warga.

Hasil pemantauan di Aikawapuka memperlihatkan Program Kampung Sehat telah berkembang menjadi instrumen strategis dalam memperkuat kualitas hidup masyarakat pesisir Mimika. Ketika pelayanan kesehatan hadir secara konsisten dan dekat dengan warga, fondasi kesejahteraan kampung pun tumbuh semakin kokoh.

Komentar (0)

Komentar disimpan di perangkat Anda untuk pratinjau UI. Integrasi server mengikuti modul komentar yang sudah ada di admin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.