Timika, fajarpapua.com – Duka mendalam menyelimuti masyarakat dan anak-anak sekolah di tiga distrik di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, menyusul tewasnya seorang sopir bernama Aris Sanda dalam insiden penembakan di kawasan Habema.
Dalam surat terbuka yang dikeluarkan Rabu (16/9), masyarakat tiga distrik menyampaikan pernyataan duka sekaligus menyerukan agar aksi penembakan terhadap sopir angkutan rute Wamena–Nduga dihentikan.
Dalam pernyataan yang disampaikan dari kawasan pegunungan Nduga, warga menggambarkan Aris bukan sekadar seorang sopir atau pendatang. Selama bertahun-tahun, ia disebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dengan mengangkut kebutuhan pokok, mama-mama yang hendak berjualan hingga anak-anak yang melakukan perjalanan dari Wamena menuju Nduga.
“Hari ini kami duduk di tanah, di depan sekolah anak-anak kami di gunung. Kami bukan duduk karena upacara, kami duduk karena hati kami sakit,” demikian isi pernyataan masyarakat tiga distrik tersebut.
Warga mengaku kehilangan sosok yang selama ini dianggap telah membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah pegunungan.
Menurut mereka, keberadaan sopir seperti Aris sangat penting karena jalur Wamena–Nduga menjadi salah satu akses utama masyarakat untuk mobilitas maupun distribusi kebutuhan sehari-hari.
“Bagi kami masyarakat kecil di Nduga, dia sudah seperti orang Nduga. Sudah berapa tahun dia layani kami, bawa makanan kami, bawa mama-mama jualan, bawa anak-anak kami dari Wamena ke Nduga dengan selamat,” ungkap mereka.
Kepergian Aris disebut meninggalkan kesedihan mendalam. Anak-anak sekolah, mama-mama hingga para kepala keluarga disebut ikut merasakan kehilangan.
“Mau cari sopir seperti dia dimana lagi di gunung ini? Anak-anak sekolah menangis, mama-mama menangis, bapa-bapa tunduk kepala. Kami rasa kehilangan paling dalam,” kata masyarakat.
Minta Penembakan Sopir Dihentikan
Selain menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Aris Sanda di Toraja, masyarakat Nduga juga menyampaikan pesan kepada kelompok bersenjata yang mereka sebut sebagai OPM di hutan.
Dengan penuh keprihatinan, warga meminta agar sopir yang melayani masyarakat tidak lagi menjadi sasaran penembakan.
“Dengan hati yang hancur kami minta, stop sudah, jangan sembarang tembak sopir. Sopir itu bukan musuh. Dia tidak bawa senjata. Dia bawa kehidupan untuk kami di Nduga,” tegas mereka.
Masyarakat meminta setiap persoalan diselesaikan dengan memastikan terlebih dahulu identitas maupun fakta di lapangan, bukan dengan tindakan kekerasan.
“Kalau ada masalah, tanya dulu, lihat bukti dulu, jangan langsung tembak orang tidak bersalah. Setiap peluru yang kena sopir, yang luka itu hati kami masyarakat Nduga juga,” lanjut pernyataan tersebut.
Ingin Wamena–Nduga Kembali Aman
Masyarakat tiga distrik menegaskan keinginan mereka untuk hidup dalam suasana damai dan memastikan anak-anak dapat bersekolah dengan aman.
Mereka juga berharap jalur Wamena–Nduga dapat kembali menjadi jalur yang aman bagi sopir, pedagang, pelajar dan masyarakat umum.
“Kami masyarakat Nduga mau hidup damai, mau anak-anak sekolah aman, mau jalan Wamena-Nduga aman. Jangan tambah air mata lagi di atas tanah ini,” tegas mereka.
Pernyataan ditutup dengan doa bagi keluarga almarhum Aris Sanda serta harapan agar masyarakat Nduga tidak kembali kehilangan nyawa akibat kekerasan.
“Semoga Tuhan beri kekuatan buat keluarga yang ditinggalkan di Toraja sana. Doa kami dari pegunungan Nduga menyertai kalian. Tuhan tolong Nduga,” demikian pernyataan masyarakat dan anak-anak sekolah dari tiga distrik di Kabupaten Nduga. (ron)













