Agats, fajarpapua.com – Bentrokan antarwarga terjadi di Kota Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, sejak Minggu malam hingga Senin (3/8/2026). Namun, berkat upaya mediasi yang melibatkan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta aparat keamanan, dua kelompok yang bertikai menyatakan kesediaan menyelesaikan persoalan melalui jalur damai.
Sebelumnya, Senin pagi, situasi di Kota Agats masih memanas. Dua kelompok warga terlihat saling kejar menggunakan busur panah dan senjata tajam di sekitar Lapangan Yos Sudarso. Aksi serupa juga terjadi di beberapa titik lain seperti kawasan Bintang Laut dan Syuru.
Akibat bentrokan tersebut, aktivitas masyarakat sempat terganggu. Sejumlah toko dan kios memilih tutup sementara demi menjaga keamanan.
Aksi bentrokan ini buntut dari kericuhan yang terjadi saat kunjungan Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo ke Kabupaten Asmat pada Sabtu (1/8/2026) dalam rangka penyerahan hibah pembangunan Jembatan Penghubung Badara-Ewer, peresmian Asrama SMAK Seminari Yohanes Penginjil Asmat, serta sejumlah Jew (rumah adat) di wilayah tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah warga dari beberapa kampung sebelumnya berupaya menemui gubernur untuk menyampaikan aspirasi. Namun karena tidak berhasil bertemu secara langsung, warga kemudian mendatangi Hotel Asmat Permai, tempat gubernur dan rombongan menginap, pada Sabtu malam.
Situasi yang awalnya merupakan penyampaian aspirasi kemudian berubah ricuh hingga mengakibatkan kerusakan sejumlah kaca dan fasilitas hotel serta rumah warga.
Peristiwa tersebut memicu reaksi dari warga lain, khususnya masyarakat Kampung Syuru dan Yamas yang bermukim di sekitar kawasan hotel. Ketegangan kemudian berkembang menjadi aksi saling serang yang melibatkan warga dari beberapa kampung lainnya.
Di tengah situasi yang masih memanas, Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agats, RD. Innocentius Rettobjaan, turun langsung ke lokasi bentrokan. Didampingi sejumlah tokoh masyarakat, Pastor Innocentius mengajak kedua kelompok untuk menahan diri, menghentikan aksi kekerasan, dan mengutamakan dialog sebagai jalan penyelesaian.
Vikjen Keuskupan Agats juga memimpin doa bersama di Lapangan Yos Sudarso. Doa tersebut dipanjatkan agar situasi keamanan segera pulih dan masyarakat kembali hidup dalam suasana damai serta saling menghargai.
"Kita semua adalah saudara. Persoalan apa pun harus diselesaikan dengan dialog, bukan dengan kekerasan yang hanya akan membawa kerugian bagi semua pihak," pesan perdamaian yang disampaikan kepada warga yang berkumpul di lokasi.
Sementara itu, aparat keamanan dari Polres Asmat terus melakukan pengamanan dan patroli di sejumlah titik strategis untuk memastikan situasi Kota Agats tetap terkendali.
Selain aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat juga terus melakukan pendekatan persuasif kepada kedua kelompok. Mediasi yang berlangsung sejak pagi berjalan dengan baik dan menghasilkan komitmen bersama untuk mengakhiri konflik secara damai.
Informasi terbaru yang diterima fajarpapua.com menyebutkan, proses mediasi perdamaian masih terus berlangsung. Kondisi Kota Agats berangsur kondusif dan aktivitas masyarakat mulai kembali normal.
Pagar penutup akses jalan menuju Syuru, Bintang Laut, serta sejumlah titik lainnya terlihat mulai dibuka.
Masyarakat berharap kesepakatan damai yang dibangun dapat benar-benar mengakhiri konflik, sehingga keamanan dan ketertiban di Kota Agats kembali pulih sepenuhnya serta aktivitas pemerintahan, pendidikan, ekonomi, dan pelayanan masyarakat dapat berjalan seperti sediakala. (Jef)









